MITRA Teaching Program

By : Emiati Lomi Wadu

MITRA Teaching is an educational program undertaken by MITRA (Mahasiswa Indonesia Timur Relasi Asing or Eastern Indonesian Student Foreign Relations) as one of the pillars that must be done is to introduce and develop the English language. MITRA Teaching is done every week on the coast Oesapa, Kupang with the purpose of creating children who are able to speak English properly. Target of MITRA Teaching are children from poor families who live in the coastal area in Oesapa, Kupang aged 3 years to 12 years. The activities are to teach English to the children in a manner that is simple and creative. Children were divided into small groups according grade their school namely Level 1 covers children aged 3 years to who was in Grade 2, Level 2 includes children grade 3 to grade 4, and the last is Level 3 that include children in grade 5 to grade 6. The process of learning English are led by MITRA’s members or volunteers on each level. At each level, children are further subdivided into smaller groups so that one person teaching volunteer only foster child only 1-2 people so that the learning process becomes more effective and easier to organize.

My role as a Teaching Coordinator is preparing all the necessary requirements for teaching such as learning tools, dictionaries and so on, also coordinate and control of implementation of these activities. As a Teaching Coordinator, I also organize and divide the volunteers into groups and choose the mentors, after preparing the monthly basic materials which will be taught to mentor each level to be done. The mentors are given the flexibility to determine their own learning method according to ability and creativity respectively. At the end of the activity, there will be an evaluation for all the teaching volunteers for the better in the next week.

mt1mt2 mt3 mt4 mt5

UniBRIDGE Award 2015

By : Diyanti Koroh

Bridge merupakan singkatan dari Building Relationship through Intercultural Dialogue and Growing Engagement. BRIDGE merupakan sebuah proyek yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman antara Australia dan Asia merupakan kerja sama sekolah – sekolah.yang bekerja sama antar kedua Negara. Dan Indonesia merupakan salah satu Negara di Asia yang mendapat kesempatan ini. Bridge membangun proyek di sekolah antara kedua Negara, melainkan membuka kesempatan untuk antar universitas di Indonesia dan Australia. Universitas Nusa Cendana mendapat kesempatan untuk membuat kerja sama ini sehingga kerja sama antar universitas ii disebut UniBRIDGE. UniBRIDGE Adalah wadah bagi mahasswa Indonesia dan Mahasiswa Bahasa Indoensia di Australia untuk belajar mengenai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta menjadi wadah belajar mengenal kebudayaan antar ke 2 negara.

Saya merupakan salah seorang yang begabung dalam keanggotaan UniBRIDGE. Menjadi anggota UniBRIDGE memberikan keuntungan tersendiri bagi saya. Saya bukan hanya belajar bahasa Inggris, saya mendapatkan wawasan lain yaitu UniBRIDGE membuka wawasan saya dalam membangun relasi yang baik dengan orang luar tanpa meninggalkan sisi Indonesia saya. Kesempatan ini membawa saya untuk belajar tentang banyak hal hal, dalam bidang bahasa dan budaya yang ada antar kedua negara. Tahun ini, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi penerima UniBRIDGE Award untuk mengunjungi Australia. Kesempatan ini tentunya membuka peluang saya untuk belajar lebih banyak tentang cara membangun relasi yang kuat antar pemuda dalam Organisasi Internasional.


Menjadi Wakil II Duta Bahasa NTT 2015

Bt : Diyanti Koroh – Wakil II Duta Bahasa NTT 2015

Duta Bahasa NTT adalah sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa NTT. Kegiatan ini bejuan untuk menemukan duta muda NTT yang mampu berbahasa Indonesia, berbahasa daerah maupun berbahasa asing yang baik dan benar untuk dapat memberi pengaruh terhadap lingkungan sekitar mereka khususnya kalangan muda/generasi muda untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa dan kebanggan mereka. . Pegelaran ini memakan waktu 3 hari untuk sampai pada acara puncak. Kegiatan ini memiliki beberapates yang dibagi menjadi 3 bagian yakni tes awal yang diikuti oleh seluruh peserta Duta Bahasa 2015 yakni, tes tertulis, tes Uji Kompetensi Berbahasa Indonesia (UKBI) serta Persiapan Makalah. Tes kedua adalah Tes Unjuk Bakat bagi peserta yang masuk 20 besar. Tes bisa berupa apa saja yang berbau seni seperti, menari, menyanyi, bermain alat music, serta membaca puisi. Tes yang terakhir adalah mempresentasikan hasil makalah yang telah di tulis dengan tema yang ada dan sub tema yang telah dipilih.

Acara ini diikuti oleh 61 orang yang berasal dari berbagai universitas di NTT bahkan para alumni yang masih berusia 25 tahun. Dalam perlombaan ini, saya berhasil lolos dan mendapat kesempatan untuk masuk dalam 20 Besar dan menampilkan bakat saya dalam bermain alat music Tradisional NTT yakni Sasando. Tidak berhenti disitu, Saya mendapat kesempatan untuk masuk dalam kandidat 10 besar peserta yang masuk dalam tes akhir yaitu mempresentasikan makalah yang sudah saya persiapkan. Akumulasi semua tes ini membawa saya keluar menjadi Wakil II Duta Bahasa NTT tahun 2015. Ini adalah pencapaian yang membuat saya belajar menjadi duta dalam menggunakan bahsa Indonesia yang bak dan benar, serta menjadi duta budaya yang mampu mengenal kebudaayaan daerahnya dengan baik, serta belajar mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang harusnya berjaya di tanahnya sendiri, Indonesia.


Timor Inspiring Visit to Share in West Fatuleu August 2015

By : Claudya A. Dhaja


MITRA friends participated in KITONG event

Three-days experience in West Fatuleu with friends from different communities of young people in the city of Kupang gave me another different shades. It was from 31st August – 2nd September 2015, left the city with all the activities and visited the village, without electricity, without mobile phone signal, catched an open cab truck, enjoyed the rocky and dusty roads and a good scenery of sunrise from the top of Nuataus hill. I was offline for 3 days which was really good, an intermission from online.


About to go to school

The event was initiated by a local NGO in the city of Kupang, the IMUT Motorcycle gang, and about 60 volunteers represented dozens of youth communities, those are SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) Kecamatan Fatuleu Barat, HIPPA FATBAR (Himpunan Pemuda Pelajar Asal Fatuleu Barat), KNPI Kota Kupang, KoAR (Komunitas Akar Rumput) NTT, Sekolah MUSA (Sekolah Multimedia Untuk Semua), Geng Motor IMUT (Inovasi Mobilisasi Untuk Transformasi), Serikat Persaudaraan Guru (SPG),  #KupangBagarak, Komunitas Guru Lentera, Forum Soe Peduli (FSP), Persani NTT, KOMPAK (Komunitas Peace Maker Kupang), Forum Muda Tenggara, Komunitas MITRA (Mahasiswa Indonesia Timur Relasi Asing) and HipHop Kupang.


A pose together before leaving Kupang

We arrived there in the afternoon. They gave us a very warm welcome with a traditional dance, traditional music and the poem. It was so good and touching. We continued with snack and dinner. Local snacks were on the transient dining room made by some woods and leaves which was very natural. They served us a very scrumptious welcome dinner.


Traditional dance with traditional music.


A trancient dining room.

The next morning we had a breakfast together with all the volunteers before heading to each school. I was given a chance to share with the students in SMA N 1 Fatuleu Barat which is about 4 kilometer from my lodging. After teaching we went back to the village office and there were the regent of Kupang regency and the board. We had a big discussion among the government and the people and also the local NGOs. As a rule, tasteful lunch and dinner always well- served in the dining room.


SMAN1 Fatuleu Barat volunteers, teachers and the government

i was

After Sharing Session with the Senior High School Students

i 2

I was trying to lead the discussion

In the afternoon, there was a brief presentation and simulation about what is Biogas and how to use it. Biogas is produced through the breakdown of organic matter in the absence of oxygen, which is referred to as anaerobic digestion. The whole process works like a big concrete stomach would:  Organic materials like manure, food scraps, crop residue, or wastewater sludge (known as feedstock) are fed into the digester, where it’s heated to 38-40 degrees Celsius (temperature of a cow’s stomach) and stirred for 30-60 days, slowly producing a combination of methane, carbon dioxide and other gases (known as biogas). The biogas can then be used for power generation, heating and cooling needs or piped into the natural gas grid.Once biogas production is complete, the waste has transformed into a high-quality fertilizer (called digestate). Once it is removed from the digester, the process starts all over again. (Source :

Not only the community there but I was also amazed with what the IMUT motor gang has done there. They encourage the community to try the Biogas instead of woods as it gives many benefits especially in the rainy season and in coincidence they breed cows but hadn’t known how to utilize the feces beside as a fertilizer.


Presentation and simulation about Biogas


Q&A after presentation and simulation about Biogas

After having discussions, presentations and simulations, some friends had the chance in groups to hunt places and hills before heading back to Kupang. I went with some friends, climbed the Nuataus Hill in a very early morning at 4 am and arrived in the hill at 6 am where the sun was about to rice and present a good scenery to be captured. I belief that what we have done there has left something in their mind and heart and I am looking forward to continue sharing in another chance.