Pengalaman Mendaftar Program PhD di Universitas Luar Negeri (Mencari Supervisor Hingga Melamar Beasiswa)

Foto

Beberapa hari lalu, tepatnya pada 31 Mei 2019, saya mendapatkan sebuah surel dari Graduate Research Office yang menyatakan bahwa saya diterima untuk program Doktoral (Matematika) di Universitas Tasmania (UTAS). Tentu sebuah kabar yang membahagiakan, dan terlebih lagi, saya dinyatakan juga berhak atas Tasmania Graduate Research Scholarship yang membiayai semua biaya perkuliahan saya selama menempuh studi Doktoral di UTAS dan juga biaya hidup sehari-hari disana hingga selesai studi. Kabar-kabar bahagia tersebut sekaligus mengakhiri penantian saya selama kurang lebih dua bulan lamanya sejak pertama kali menjalin komunikasi dengan pihak universitas. Dalam periode penantian di Kupang setelah diwisuda dari Australian National University (ANU) pada Desember tahun kemarin, saya menghabiskan waktu untuk mengajar di Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana. Selain itu, keseharian saya juga diisi dengan mengadakan diskusi-diskusi daring seputar LPDP, salah satunya melalui forum diskusi Berburu Beasiswa Ala FAN (BBAF) Rote beberapa waktu yang lalu.

Apabila yang dipersiapkan berjalan sesuai yang direncanakan, maka tersisa kurang lebih 1 sampai 2 bulan lagi sebelum saya memulai program Doktoral. Oleh karena itu, sembari menunggu momen itu tiba dan juga memenuhi permintaan beberapa teman, saya ingin berbagi pengalaman saya ketika melamar PhD, yaitu mulai dari mencari supervisor, menulis proposal riset, hingga proses melamar beasiswa.

Mencari Supervisor

Saya akan berbicara sedikit tentang studi magister saya beberapa waktu lalu sebagai pengantar. Jadi, di tahun kedua saya di ANU, program magister saya, Masters of Mathematical Sciences (Advanced), mewajibkan untuk menulis tesis yang berbobot sekitar 25% dari total sks. Ketika itu saya dibimbing oleh Prof. Conrad J. Burden untuk topik riset dengan judul “ The Most Recent Common Ancestor of a Randomly Chosen Sample in a Galton-Watson Process “ (Paper dapat dibaca di: https://arxiv.org/abs/1904.10664). Nah, apabila teman-teman juga melakukan riset ketika studi magister, maka salah satu opsi mencari supervisor untuk PhD adalah dengan menanyakan kesediaan dari supervisor ketika S2 untuk kembali menjadi supervisor PhD teman-teman. Namun, bagi teman-teman yang tidak diwajibkan atau tidak mengambil riset sewaktu S2, maka sepengetahuan saya, untuk melamar program Doktoral di Universitas di luar negeri diperlukan pengalaman riset dengan bobot sekurang-kurangnya 25% dari total sks pada studi sebelumnya. Hal tersebut dapat disiasati dengan melakukan riset-riset setelah studi secara mandiri, dan hasil riset tersebut dapat teman-teman tambahkan dalam Curriculum Vitae masing-masing ketika mendaftar program PhD. Selain pengalaman melakukan riset, salah satu aspek yang juga dinilai ketika mendaftar lowongan PhD dan beasiswanya adalah hasil belajar ketika menempuh studi magister. Di Australia, kebanyakan universitas mewajibkan calon pendaftar untuk memiliki Upper Second Class Honours  atau First Class Honours (https://en.wikipedia.org/wiki/Honours_degree).  Oleh karena itu, bagi teman-teman yang sementara studi S2, berusahalah semaksimal mungkin terlebih jika mempunyai keinginan untuk studi lanjut.

Jika pada poin sebelumnya dikatakan bahwa supervisor S2 bisa dijadikan opsi tercepat apabila ingin melanjutkan studi S3, hal ini tidak menjadi opsi saya. Sebab, supervisor S2 saya akan segera pensiun sehingga hanya akan hadir sebagai visiting fellow di universitas. Nah, untuk itu kita akan membahas poin berikutnya, yakni ”koneksi”. Waktu itu sebelum saya balik ke Indonesia, supervisor saya sempat menanyakan apabila saya mempunyai keinginan untuk lanjut studi lagi. Sepulang saya ke Indonesia, saya mengirim surel kepada supervisor saya untuk bertanya apabila beliau mempunyai rekomendasi calon supervisor PhD yang dapat saya hubungi. Dari sekian banyak daftar nama yang diberikan, saya mengontak rekan beliau sewaktu mengikuti konferensi Phylomania di UTAS (http://www.maths.utas.edu.au/phylomania/phylomania2018.htm), yang pada akhirnya menjadi supervisor untuk studi Doktoral.

Sebelum saya lanjut ke pengalaman selama menjalin komunikasi dengan calon supervisor S3 waktu itu, saya ingin menekankan beberapa poin penting. Yang pertama, usahakan untuk terus memperluas koneksi teman-teman, karena kita tidak tahu dari mana kesempatan itu akan datang, bisa saja dari teman sewaktu studi maupun dari rekan kerja hingga dari supervisor. Selanjutnya, teman-teman harus berani mengambil inisiatif terlebih dahulu. Jika pada waktu itu saya tidak menghubungi supervisor saya lagi, maka saya tentu tidak akan memperoleh daftar kontak untuk dihubungi, meskipun sebelum berpulang ke Indonesia supervisor saya sudah menanyakan mengenai hal tersebut.  Patut diingat oleh teman-teman agar jangan takut untuk bertanya, karena staf akademik disana sangat menyambut baik pertanyaan teman-teman, jika mereka tidak bisa, akan diusahakan untuk mengalihkan pertanyaan teman-teman ke orang lain yang dapat dihubungi.

Saat pertama kali menjalin komunikasi dengan calon supervisor S3 saya, beliau sangat menyambut baik, bahkan memberitahukan saya posisi PhD yang sedang dibuka, serta menginformasikan saya mengenai beasiswa yang sedang dibuka. Sebelum itu, saya juga diminta untuk mengirimkan CV, transkrip akademik, dan juga tesis saya. Beliau tertarik dan menanyakan apabila beliau beserta tim bisa mewawancarai saya lebih lanjut dan meminta saya untuk mengatur jadwal yang sesuai dengan waktu saya. Saran saya, ketika diberikan pertanyaan seperti itu sebaiknya teman-teman terlebih dahulu menanyakan waktu dari supervisor untuk mencocokan jadwal. Keesokan harinya setelah mendapatkan surel tersebut, saya diwawancarai via Skype oleh tim supervisor yang berlangsung secara serius namun santai. Mereka menanyakan hal-hal seputar: tesis, kesediaan saya untuk menempuh studi lanjut jika diterima, aktivitas saya sepulang studi, deskripsi projek yang akan dilakukan selama studi secara umum. Di akhir wawancara , saya sudah mendapatkan kepastian bahwa mereka bersedia untuk menjadi tim supervisor saya untuk studi Doktoral, dan langkah berikutnya adalah mendaftarkan ke universitas dan juga beasiswa. Nah, bagi teman-teman yang belum tahu, alur pendaftaran studi Doktoral dan studi magister sedikit berbeda, terutama mereka yang mengambil Masters by Coursework. Pada studi magister, teman-teman harus mendaftar universitas terlebih dahulu kemudian mencari supervisor ketika sudah menempuh studi, sedangkan untuk PhD, yang paling penting adalah untuk menemukan supervisor terlebih dahulu kemudian mendaftarkan ke universitas. Hal ini dikarenakan, supervisor S3 juga akan berperan dalam proses pendaftaran universitas dan beasiswa dengan memberikan rekomendasi.

Berikutnya saya akan berbagi tentang salah satu poin penting ketika mencari supervisor, yakni menulis proposal riset yang baik. Dari pengalaman saya ketika menulis proposal riset, poin-poin yang harus teman-teman cantumkan antara lain (Poin-poin ini berdasarkan dari saran supervisor saya dan guideline dari universitas):

  • Judul Riset
  • Tujuan dan Objektif Riset
  • Kepentingan Riset untuk Bidang yang Ditekuni
  • Metodologi Riset
  • Hasil-Hasil yang Diharapkan
  • Penyelesain Riset dalam Waktu yang Diberikan
  • Ketersediaan Supervisor dan Sumber Pembiayaan

 

Melamar Beasiswa

Proses melamar beasiswa (http://www.utas.edu.au/research/degrees/scholarships/international-scholarships#752910)

di UTAS sejalan dengan proses melamar ke program yang dituju dan yang perlu dilakukan adalah mengindikasikan keinginan kita untuk mendaftarkan beasiswa yang dituju di formulir aplikasi. Oh iya, sebelum itu, apabila teman-teman mendaftar secara mandiri, semua proses pendaftaran dilakukan secara onlie melalui website universitas. Yang pertama dilakukan adalah melengkapi Expression of Interest (EOI), setelah mendapatkan undangan dari pihak Universitas barulah teman-teman melengkapi aplikasi pendaftarannya

(http://www.utas.edu.au/research/degrees/apply-now). Nah, dalam proses pendaftaran tersebut, teman-teman juga diwajibkan untuk mendapatkan 2 referee reports yang mengetahui latar belakang akademik dan juga potensi riset teman-teman.  Pemberian rekomendasi juga dilakukan secara online dan dikirimkan langsung oleh pihak Universitas ke alamat surel masing-masing pemberi rekomendasi yang saya nominasikan. Waktu itu saya mendapatkan rekomedasi dari supervisor S2 dan juga dari Ibu Maria Lobo, rekan kerja di FST Matematika Undana yang juga merupakan dosen saya saat menempuh studi S1. Penting diingat dan sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwa kita perlu menjalin koneksi seluas-luasnya. Mungkin pada saat ini kita belum mengetahui kepetingannya, tetapi percayalah suatu saat di masa mendatang, koneksi yang teman-teman bangun itu akan dibutuhkan. Hal lain yang juga penting dan terkadang dilupakan adalah, selama proses penantian tersebut (pengumuman beasiswa dan juga aplikasi universitas), usahakanlah untuk terus menjalin komunikasi dengan calon supervisor baik itu sekedar diskusi tentang riset atau hanya untuk menanyakan tentang perkembangan aplikasi beasiswa dan universitas.

Selamat menyelesaikan studi bagi teman-teman yang sedang menempuh studi dan juga selamat mencari beasiswa dan mendaftar kampus bagi teman-teman yang berencana untuk studi lanjut!

Oleh:  Albert Christian Soewongsono – PhD Candidate (Math) at Tasmania University. Email: albertchristian1997@gmail.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s