Mengenal Sistem Orientasi Kampus di Australia Bagi Mahasiswa Baru

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang masa orientasi bagi mahasiswa baru di kampus-kampus di Australia. Pada tulisan ini saya akan menceritakan berdasarkan pengalaman ketika pertama kali mengalami masa tersebut di Australian National University (ANU). Sebelum itu, mungkin yang familiar di pemikiran teman-teman di Indonesia, ospek atau mabim bagi mahasiswa baru adalah kegiatan-kegiatan berupa pengenalan dengan senior, pengalaman dibentak oleh senior, ataupun kegiatan pengenalan angkatan lainnya yang membutuhkan daya tahan fisik, dan kebanyakkan melelahkan. Nah, di kampus-kampus di luar negeri, hal-hal seperti tersebut tidak akan dijumpai, meskipun ada juga kegiatan-kegiatan fisik tetapi yang bersifat menyenangkan dan bebas dipilih oleh mahasiswa. Jika teman-teman penasaran, langsung saja ya kita membahas apa-apa saja sih yang dilakukan selama masa orientasi, atau lebih dikenal dengan sebutan Orientation Week (O-Week), di Australia.

2

Suasana Saat Welcoming Speech di ANU

  1. Sesi Induksi Universitas dan Fakultas

Nah, salah satu agenda penting selama  O-Week yang wajib untuk tidak dilewatkan adalah sesi induksi (Induction session). Sesi ini biasanya terdiri atas dua, yakni yang diberikan oleh universitas dan juga yang diberikan oleh fakultas. Induksi dari universitas berupa pengenalan sistem perkuliahan di kampus tersebut, dan dibagi dalam beberapa workshop yang dapat dipilih oleh mahasiswa untuk dihadiri. Hal-hal yang dipaparkan seperti: “Managing Your Time”, “Essay Writing Strategies”, “Managing The Reading” dan kemampuan-kemampuan lainnya yang dibutuhkan oleh mahasiswa tahun pertama selama menempuh studi di universitas. Sesi induksi lainnya adalah yang diberikan oleh fakultas atau college masing-masing. Nah sesi ini tidak kalah pentingnya, karena ini adalah kesempatan perdana para mahasiswa tahun pertama untuk bertemu langsung dengan staf akademik di fakultasnya masing-masing, termasuk bertemu dengan convenor. Convenor ini terbagi lagi jadi dua, yakni course convener, yakni dosen yang mengasuh mata kuliah, dan program convenor. Kalau di Indonesia, program convenor seperti kaprodi lah ya. Nah disitu teman-teman bisa berdiskusi langsung terkait rencana studi kedepan dan hal-hal akademik lainnya. Informatif sekali kan ya ?

3

Salah Satu Sesi Workshop Selama O-Week di ANU

  1. Kesempatan Bergabung dengan Organisasi Kampus

Selama minggu orientasi, banyak stall yang akan didirikan. Salah satunya adalah stall-stall dari organisasi mahasiswa di jurusan masing-masing, seperti Law Students’ society atau Math Students’ society. Tidak hanya academic society saja yang punya stall, tetapi society yang bersifat fun juga ada, seperti society untuk penggemar permainan League of Legends (LoL) atau society penggemar budaya Korea juga ada. Selain itu ada juga stall yang didirikan oleh perhimpunan mahasiswa negara tertentu, seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA), perhimpunan pelajar mahasiswa Malaysia dll. Di stall-stall tersebut, biasanya disediakan kuliner lokal masing-masing negara, lumayan kan bisa dicicipi. Jadi sepanjang deretan stall-stall, teman-teman bebas untuk berjalan mengunjungi stall manapun yang disukai. Satu lagi yang penting dan biasanya tidak disia-siakan oleh mahasiswa tahun pertama, teman-teman biasanya diberikan merchandise kecil-kecilan, seperti tas, botol air, gelas dll. Sangat berguna kan?

  1. Tur Pengenalan Kampus

Aktivitas tidak kalah penting lainnya adalah tur mengelilingi beberapa fasilitas penting di kampus. Tur ini biasanya dibawakan oleh mahasiswa tingkat lanjut dan tersedia selama beberapa kali dalam satu hari. Mahasiswa baru akan diajak berkeliling dengan berjalan kaki untuk diperkenalkan dengan fasilitas-fasilitas penting di kampus, seperti gym dan perpustakaan. Oh iya, perpustakaan juga mempunyai tur untuk memperkenalkan mahasiswa dengan fasilitas-fasilitas dalam perpustakaan dan tata cara peminjaman buku, perpanjangan masa peminjaman, pengunaan fasilitas didalamnya seperti mesin kopi, printer dan komputer.

  1. Kegiatan-Kegiatan mingle Bersama Mahasiswa Tahun Pertama

Kampus-kampus di Australia juga mempunyai aktivitas untuk saling kenal dan mengakrabkan diri, tetapi aktivitas itu dikemas dalam bentuk yang tidak akan menguras fisik teman-teman, atau bahkan sampai menyebabkan teman-teman sakit. Aktivitasnya biasanya dikemas menjadi kegiatan seperti nonton bareng di theatre kampus, meet and greet dinner, student welcome evening dll. Jadi, selain sesi berkenalannya dapat, teman-teman juga mendapatkan tambahan berupa hiburan.

1

Foto Bersama Vice-Chancellor ANU, Prof. Brian Schmidt, di sela kegiatan Postgraduate Meet & Greet

Nah sekian beberapa aktivitas yang biasa dilakukan selama O-Week di kampus-kampus di Australia. Gimana menurut teman-teman? Apakah mempunyai impian agar kegiatan-kegiatan seperti itu juga dapat diterapkan di kampus-kampus di Indonesia?.

Sampai jumpa di artikel berikutnya !

Oleh: Albert Christian Soewongsono S.Si., M.Math.Sci. (Adv)

Berbagi Pengalaman Sebagai Tutor di Universitas di Australia

Apakah pernah terlintas di pikiran teman-teman untuk mendapatkan kesempatan mengajar mahasiswa di kampus luar negeri?

Ketika teman-teman berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri, teman-teman juga dapat memperoleh pengalaman lainnya yaitu menjadi tutor ketika sedang berkuliah. Mungkin teman-teman penasaran bagaimana sih cara untuk mendaftar, apa saja syarat-syaratnya, hingga kesan-kesan selama membimbing mahasiswa lokal maupun Internasional, terlebih ketika Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris, yang mana bukan merupakan bahasa pertama saya. Dalam artikel ini, saya akan coba menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas, dan mengambil beberapa poin yang saya pikir baik jika diterapkan di universitas di Indonesia.

Pertama-tama, ada baiknya saya menjelaskan terlebih dahulu secara singkat tentang sistem pendidikan di sana. Jadi, di universitas-universitas luar negeri, perkuliahan dibagi menjadi dua, yakni Lecture dan Tutorial. Lecture diberikan langsung oleh dosen mata kuliah kepada seluruh mahasiswa yang mendaftar dalam mata kuliah tersebut. Lecture hanya berupa penyampaian materi dan jika ada pembahasan soal, biasanya hanya sedikit saja. Ini selain dikarenakan bukan porsi dari lecture, tetapi juga karena durasi lecture adalah 1 hingga 2 jam saja, pada umumnya hanya 1 jam, terlebih jika teman-teman mengambil Matematika dan jurusan-jurusan sains lainnya. Kalau di Indonesia, lecture seperti kelas-kelas perkuliahan yang teman-teman ikuti. Nah, tutorial dimaksudkan sebagai wadah untuk teman-teman berdiskusi mengenai materi perkuliahan yang sudah disampaikan oleh dosen. Pada setiap tutorial, biasanya dosen sudah menyiapkan worksheet untuk dikerjakan dan didiskusikan. Worksheet tersebut kebanyakan tidak masuk dalam penilaian, meskipun ada juga yang memasukkannya sebagai penilaian. Semuanya tergantung dari struktur mata kuliah masing-masing. Terkait struktur mata kuliah hingga sistem enrolment disana, akan saya jelaskan pada lain kesempatan ya. Jika lecture diberikan langsung oleh dosen, maka tutorial dibimbing oleh tutor. Satu tutor mempunyai tanggung jawab untuk memegang 1 hingga 2 kelas tutorial, tergantung jumlah mahasiswa dalam mata kuliah tersebut dan juga jumlah tutor yang tersedia.

Pertama kali saya menjadi tutor di Mathematical Sciences Institute (MSI) di Australian National University (ANU) adalah ketika saya berada di tahun kedua studi, tepatnya pada awal tahun 2018 yang lalu. Saya mengetahui informasi bahwa mahasiswa magister dapat mendaftar sebagai tutor dari teman saya yang juga sesama mahasiswa magister, namun mahasiswa lokal. Sempat kaget juga ketika diberitahukan bahwa mahasiswa magister dapat juga melamar, karena kebanyakan program studi di sana mensyaratkan mahasiswa Ph.D sebagai salah satu syarat menjadi tutor, terlebih jika teman-teman mengambil ilmu-ilmu sosial sebagai bidang studi. Kalau teman-teman mengambil studi di bidang Matematika dan ilmu sains lainnya, biasanya tutor adalah mahasiswa sarjana tahun terakhir, mahasiswa honours, mahasiswa magister, dan juga mahasiswa Ph.D. Proses pendaftaran dilakukan secara online selama 1 hingga 2 bulan sebelum semester baru dimulai. Dokumen yang disiapkan juga simpel saja, antara lain: Curriculum Vitae, transkrip akademik terakhir, dan bukti teman-teman pernah mempunyai pengalaman mengajar sebelumnya, jika ada. Apabila teman-teman menjadi tutor di ANU, terdapat Student Experience of Learning & Teaching (SELT), yakni semacam survei yang diberikan ke mahasiswa diakhir semester untuk memberikan penilaian kepada dosen dan tutor. Hasil survei ini dapat digunakan sebagai dokumen pendukung ketika melamar kembali sebagai tutor. Oh iya, pemberian feedback sangat penting di sistem pendidikan di sana dan hasilnya dihargai oleh pihak universitas untuk perbaikan kualitas. Saya berencana membuat artikel lainnya untuk berbagi tentang sistem pemberian feedback di sana, baik dari pihak universitas, maupun feedback berupa hasil tugas dan ujian yang diberikan oleh tutor dan dosen kepada mahasiswa. Di Australia, mahasiswa mempunyai hak untuk mempertanyakan penilaian yang mereka terima. Praktik ini masih jarang dijumpai di Indonesia, berdasarkan cerita dan pengalaman yang saya dengar dari teman-teman saya. Alasan-alasan mengapa praktik tersebut menurut saya sangat penting diterapkan, baik untuk pengajar maupun mahasiswa akan saya bagikan di lain kesempatan.

Kembali ke mekanisme pendaftaran sebagai tutor. Kalau teman-teman baru pertama kali mendaftar sebagai tutor, tetapi ketika di Indonesia, sempat menjadi asisten dosen maka salah satu cara yang dapat teman-teman lakukan adalah dengan meminta surat rekomendasi dari dosen yang menjelaskan peran teman-teman sebagai asisten dosen sebelumnya. Selain dokumen-dokumen diatas, ada juga isian singkat yang perlu diisikan, antara lain: data diri, mata kuliah tertentu yang ingin teman-teman daftar sebagai tutor, dan ketersediaan diri sebagai tutor hingga semester berakhir. Apabila terpilih pertama kali sebagai tutor, teman-teman wajib mengikuti pelatihan sebagai tutor yang dilakukan sepanjang semester berlangsung. Selain pengenalan tentang peran sebagai tutor yang diberikan di awal, modul online akan diberikan secara reguler tiap minggu untuk direfleksikan. Contoh modul-modul jika menjadi tutor Matematika, seperti “Theories about Teaching Mathematics”, “Assessing Students in Class” dll.

Sebagai salah satu syarat untuk bekerja, termasuk sebagai tutor, di Australia, teman-teman harus mengurus terlebih dahulu Tax File Number (TFN) agar dapat memperoleh bayaran sesuai jam kerja. TFN ini berfungsi seperti Nomor Pengguna Wajib Pajak (NPWP) jika di Indonesia. Pengurusan TFN tidaklah ribet, karena dapat dilakukan secara online dan dokumen fisiknya dikirimkan via pos ke alamat rumah teman-teman. Sistem pembayaran di ANU dilakukan tiap dua minggu, dan bayaran sebagai tutor cukup besar. Sebagai gambaran dan motivasi tambahan untuk teman-teman yang mau mendaftar dan mempunyai keinginan untuk berbagi ilmunya, 1 jam tutorial ditambah dengan 2 jam associated working di MSI ANU dibayar sekitar $140.98 per minggunya. Itu hanya untuk 1 kelas tutorial pada 1 mata kuliah saja, biasanya tutor mempunyai tanggung jawab lebih dari satu kelas tutorial jika kelasnya besar, dan juga berkesempatan untuk memberikan tutor mata kuliah yang lain. Selain itu, ada bayaran ekstra diluar rate di atas yang dihitung berdasarkan jam kerja, jika teman-teman memeriksa ujian mahasiswa. Di ANU, klaim jam kerja dilakukan secara online melalui portal HORUS untuk selanjutnya ditinjau dan disetujui oleh Dosen mata kuliah sebelum pembayaran (dilakukan tiap 2 minggu). Berikut, dibawah ini tampilannya;

HORUS

HORUS: Menu tampilan HORUS ANU

Oh iya, yang dimaksudkan dengan associated working adalah waktu untuk mempersiapkan materi, mempersiapkan kuis mingguan (jika ada), memeriksa tugas (jika ada), dan memasukkan nilai mahasiswa ke sistem tiap minggunya. Sebelum terlupakan, teman-teman dari beasiswa LPDP tidak perlu takut dilarang bekerja sebagai tutor di kampus, sebab pekerjaan yang mendukung perkuliahan teman-teman diperbolehkan oleh LPDP.

Semester pertama menjadi tutor, saya berkesempatan menjadi tutor MATH 1013 “Mathematics and Applications I” untuk mahasiswa tahun pertama di MSI ANU. Sebelum tutoring dimulai, ada diskusi awal dengan dosen mata kuliah terlebih dahulu bersama para tutor untuk menjelaskan terkait struktur mata kuliah dan tugas untuk para tutor, serta penyampaian tutorial di kelas. Pertemuan bersama dosen mata kuliah dilaksanakan secara reguler sepanjang semester untuk membahas tentang progres kelas tutorial masing-masing tutor, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi tutor dan juga mahasiswa. Meskipun saya sudah pernah menjadi asisten dosen sebelumnya sewaktu berkuliah di Universitas Nusa Cendana (Undana), tetapi saya juga diselimuti perasaan gugup ketika pertama kali membawakan tutorial untuk mahasiswa yang pada waktu itu sekitar 80% merupakan mahasiswa lokal. Selain karena akan membawakan materi tutorial dalam Bahasa Inggris, tetapi juga karena perbedaan budaya, terlebih jika kelasnya berisikan lebih banyak mahasiswa Internasional. Perlu diingat bahwa respek terhadap budaya masing-masing mahasiswa sangat perlu dijaga oleh seorang tutor, sehingga jangan sampai dalam tutorial menyinggung budaya tertentu.

Teman-teman mungkin bertanya apakah peran sebagai tutor mirip dengan peran sebagai dosen, yakni dalam penyampaian materi. Jawabannya, tidak sepenuhnya sama. Perbedaan mendasarnya, tutor hanya menyampaikan materi di awal seputar topik tutorial pada minggu tersebut secara singkat saja, sekitar 10-15 menit. Setelah itu, mahasiswa diberikan kebebasan untuk berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk menyelesaikan soal-soal dalam worksheet yang diberikan. Tugas tutor adalah mengobservasi dan berkeliling ke setiap kelompok diskusi, jika ada pertanyaan dari mahasiswa. Dari pengalaman, tutor juga harus berinisiatif untuk menanyakan langsung ke mahasiswa apabila ada pertanyaan, sebab tidak semua mahasiswa berinisiatif untuk bertanya, terutama jika bekerja dalam kelompok. Di akhir tutorial, tutor akan menjelaskan solusi dari worksheet yang diberikan, jika masih cukup waktu. Kenapa saya mengatakan ‘jika cukup waktu’? Hal itu karena tutor tidak wajib memberikan semua solusi dari worksheet. Selain disebabkan oleh keterbatasan waktu (1 jam per tutorial), mahasiswa diharapkan semaksimal mungkin dapat menyelesaikan worksheet yang diberikan secara mandiri. Tutor juga diharapkan untuk mengikuti perkembangan materi yang disampaikan oleh dosen setiap minggunya, dan rajin mengecek forum diskusi online mahasiswa di ANU, yakni Wattle, jika ada pertanyaan yang belum terjawab pada forum diskusi tersebut. Pembahasan tentang forum tersebut akan saya bahas di lain kesempatan.

Wattle.jpg

Wattle: Menu tampilan Wattle untuk Modul Online Tutor

Saya berharap sistem lecture dan tutorial, serta melibatkan mahasiswa sebagai tutor (Pada penerapannya, tutor dan asisten dosen itu berbeda) dapat diterapkan dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Hal ini akan membantu mengurangi beban dosen di Indonesia yang harus mengajar, memeriksa pekerjaan mahasiswa, dan juga mengerjakan kewajiban melakukan penelitian, yang secara tidak langsung berdampak kepada mahasiswa. Dari pengalaman sewaktu kuliah s1 maupun dari cerita yang didengar, hasil tugas mahasiswa jarang dikembalikan atau bahkan tidak pernah dikembalikan, padahal itu merupakan hak mahasiswa untuk mendapatkan feedback. Ataupun jika mendapatkan feedback, tidak dilakukan tepat waktu. Melibatkan peran mahasiswa sebagai tutor, menurut saya, dapat membantu dalam menghilangkan permasalahan tersebut. Hal tersebut juga akan memberikan dampak positif bagi mahasiswa yang berpartisipasi sebagai tutor. Selain untuk curriculum vitae bagi ybs, jika dikemudian hari tutor tersebut ingin kembali sebagai dosen, tentu sudah punya punya pengalaman mengajar sebelumnya sehingga tidak terkesan ‘kaku’ ketika menyampaikan materi ke mahasiswa. Terkait penerapan casual work sebagai tutor di Indonesia, jika terkendala alokasi dana (meskipun harapannya untuk dapat diatur), maka berupa ‘pengakuan’ seperti sertifikat, sebagai contoh, terhadap tutor saya rasa cukup, karena itu akan berguna kedepannya baik untuk melamar beasiswa maupun pekerjaan.

Barangkali ada yang meragukan apabila sistem ini diterapkan di Indonesia, karena terkendala waktu perkuliahan yang tersedia setiap minggunya. Namun, rata-rata waktu perkuliahan di Indonesia sekitar 2 jam, jadi bisa saja dibagi 1 jam pertama untuk penyampaian materi dari dosen saja dan 1 jam berikutnya untuk tutorial. Berkaca sewaktu berkuliah di ANU, 1 jam penyampaian materi cukup untuk mencakup keseluruhan materi dalam satu semester. Sebagai informasi, 1 mata kuliah di ANU setara 6 sks di Indonesia. Nah, agar implementasi bisa lancar, tentu sebagai pengajar juga harus disiplin baik dari ketepatan waktu mengajar tiap minggunya, serta perkuliahan yang benar-benar dialokasikan untuk penyampaian materi saja ya!

Sampai jumpa di artikel berikutnya !

Oleh: Albert Christian Soewongsono S.Si., M.Math.Sci. (Adv)

Pengalaman Mendaftar Program PhD di Universitas Luar Negeri (Mencari Supervisor Hingga Melamar Beasiswa)

Foto

Beberapa hari lalu, tepatnya pada 31 Mei 2019, saya mendapatkan sebuah surel dari Graduate Research Office yang menyatakan bahwa saya diterima untuk program Doktoral (Matematika) di Universitas Tasmania (UTAS). Tentu sebuah kabar yang membahagiakan, dan terlebih lagi, saya dinyatakan juga berhak atas Tasmania Graduate Research Scholarship yang membiayai semua biaya perkuliahan saya selama menempuh studi Doktoral di UTAS dan juga biaya hidup sehari-hari disana hingga selesai studi. Kabar-kabar bahagia tersebut sekaligus mengakhiri penantian saya selama kurang lebih dua bulan lamanya sejak pertama kali menjalin komunikasi dengan pihak universitas. Dalam periode penantian di Kupang setelah diwisuda dari Australian National University (ANU) pada Desember tahun kemarin, saya menghabiskan waktu untuk mengajar di Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana. Selain itu, keseharian saya juga diisi dengan mengadakan diskusi-diskusi daring seputar LPDP, salah satunya melalui forum diskusi Berburu Beasiswa Ala FAN (BBAF) Rote beberapa waktu yang lalu.

Apabila yang dipersiapkan berjalan sesuai yang direncanakan, maka tersisa kurang lebih 1 sampai 2 bulan lagi sebelum saya memulai program Doktoral. Oleh karena itu, sembari menunggu momen itu tiba dan juga memenuhi permintaan beberapa teman, saya ingin berbagi pengalaman saya ketika melamar PhD, yaitu mulai dari mencari supervisor, menulis proposal riset, hingga proses melamar beasiswa.

Mencari Supervisor

Saya akan berbicara sedikit tentang studi magister saya beberapa waktu lalu sebagai pengantar. Jadi, di tahun kedua saya di ANU, program magister saya, Masters of Mathematical Sciences (Advanced), mewajibkan untuk menulis tesis yang berbobot sekitar 25% dari total sks. Ketika itu saya dibimbing oleh Prof. Conrad J. Burden untuk topik riset dengan judul “ The Most Recent Common Ancestor of a Randomly Chosen Sample in a Galton-Watson Process “ (Paper dapat dibaca di: https://arxiv.org/abs/1904.10664). Nah, apabila teman-teman juga melakukan riset ketika studi magister, maka salah satu opsi mencari supervisor untuk PhD adalah dengan menanyakan kesediaan dari supervisor ketika S2 untuk kembali menjadi supervisor PhD teman-teman. Namun, bagi teman-teman yang tidak diwajibkan atau tidak mengambil riset sewaktu S2, maka sepengetahuan saya, untuk melamar program Doktoral di Universitas di luar negeri diperlukan pengalaman riset dengan bobot sekurang-kurangnya 25% dari total sks pada studi sebelumnya. Hal tersebut dapat disiasati dengan melakukan riset-riset setelah studi secara mandiri, dan hasil riset tersebut dapat teman-teman tambahkan dalam Curriculum Vitae masing-masing ketika mendaftar program PhD. Selain pengalaman melakukan riset, salah satu aspek yang juga dinilai ketika mendaftar lowongan PhD dan beasiswanya adalah hasil belajar ketika menempuh studi magister. Di Australia, kebanyakan universitas mewajibkan calon pendaftar untuk memiliki Upper Second Class Honours  atau First Class Honours (https://en.wikipedia.org/wiki/Honours_degree).  Oleh karena itu, bagi teman-teman yang sementara studi S2, berusahalah semaksimal mungkin terlebih jika mempunyai keinginan untuk studi lanjut.

Jika pada poin sebelumnya dikatakan bahwa supervisor S2 bisa dijadikan opsi tercepat apabila ingin melanjutkan studi S3, hal ini tidak menjadi opsi saya. Sebab, supervisor S2 saya akan segera pensiun sehingga hanya akan hadir sebagai visiting fellow di universitas. Nah, untuk itu kita akan membahas poin berikutnya, yakni ”koneksi”. Waktu itu sebelum saya balik ke Indonesia, supervisor saya sempat menanyakan apabila saya mempunyai keinginan untuk lanjut studi lagi. Sepulang saya ke Indonesia, saya mengirim surel kepada supervisor saya untuk bertanya apabila beliau mempunyai rekomendasi calon supervisor PhD yang dapat saya hubungi. Dari sekian banyak daftar nama yang diberikan, saya mengontak rekan beliau sewaktu mengikuti konferensi Phylomania di UTAS (http://www.maths.utas.edu.au/phylomania/phylomania2018.htm), yang pada akhirnya menjadi supervisor untuk studi Doktoral.

Sebelum saya lanjut ke pengalaman selama menjalin komunikasi dengan calon supervisor S3 waktu itu, saya ingin menekankan beberapa poin penting. Yang pertama, usahakan untuk terus memperluas koneksi teman-teman, karena kita tidak tahu dari mana kesempatan itu akan datang, bisa saja dari teman sewaktu studi maupun dari rekan kerja hingga dari supervisor. Selanjutnya, teman-teman harus berani mengambil inisiatif terlebih dahulu. Jika pada waktu itu saya tidak menghubungi supervisor saya lagi, maka saya tentu tidak akan memperoleh daftar kontak untuk dihubungi, meskipun sebelum berpulang ke Indonesia supervisor saya sudah menanyakan mengenai hal tersebut.  Patut diingat oleh teman-teman agar jangan takut untuk bertanya, karena staf akademik disana sangat menyambut baik pertanyaan teman-teman, jika mereka tidak bisa, akan diusahakan untuk mengalihkan pertanyaan teman-teman ke orang lain yang dapat dihubungi.

Saat pertama kali menjalin komunikasi dengan calon supervisor S3 saya, beliau sangat menyambut baik, bahkan memberitahukan saya posisi PhD yang sedang dibuka, serta menginformasikan saya mengenai beasiswa yang sedang dibuka. Sebelum itu, saya juga diminta untuk mengirimkan CV, transkrip akademik, dan juga tesis saya. Beliau tertarik dan menanyakan apabila beliau beserta tim bisa mewawancarai saya lebih lanjut dan meminta saya untuk mengatur jadwal yang sesuai dengan waktu saya. Saran saya, ketika diberikan pertanyaan seperti itu sebaiknya teman-teman terlebih dahulu menanyakan waktu dari supervisor untuk mencocokan jadwal. Keesokan harinya setelah mendapatkan surel tersebut, saya diwawancarai via Skype oleh tim supervisor yang berlangsung secara serius namun santai. Mereka menanyakan hal-hal seputar: tesis, kesediaan saya untuk menempuh studi lanjut jika diterima, aktivitas saya sepulang studi, deskripsi projek yang akan dilakukan selama studi secara umum. Di akhir wawancara , saya sudah mendapatkan kepastian bahwa mereka bersedia untuk menjadi tim supervisor saya untuk studi Doktoral, dan langkah berikutnya adalah mendaftarkan ke universitas dan juga beasiswa. Nah, bagi teman-teman yang belum tahu, alur pendaftaran studi Doktoral dan studi magister sedikit berbeda, terutama mereka yang mengambil Masters by Coursework. Pada studi magister, teman-teman harus mendaftar universitas terlebih dahulu kemudian mencari supervisor ketika sudah menempuh studi, sedangkan untuk PhD, yang paling penting adalah untuk menemukan supervisor terlebih dahulu kemudian mendaftarkan ke universitas. Hal ini dikarenakan, supervisor S3 juga akan berperan dalam proses pendaftaran universitas dan beasiswa dengan memberikan rekomendasi.

Berikutnya saya akan berbagi tentang salah satu poin penting ketika mencari supervisor, yakni menulis proposal riset yang baik. Dari pengalaman saya ketika menulis proposal riset, poin-poin yang harus teman-teman cantumkan antara lain (Poin-poin ini berdasarkan dari saran supervisor saya dan guideline dari universitas):

  • Judul Riset
  • Tujuan dan Objektif Riset
  • Kepentingan Riset untuk Bidang yang Ditekuni
  • Metodologi Riset
  • Hasil-Hasil yang Diharapkan
  • Penyelesain Riset dalam Waktu yang Diberikan
  • Ketersediaan Supervisor dan Sumber Pembiayaan

 

Melamar Beasiswa

Proses melamar beasiswa (http://www.utas.edu.au/research/degrees/scholarships/international-scholarships#752910)

di UTAS sejalan dengan proses melamar ke program yang dituju dan yang perlu dilakukan adalah mengindikasikan keinginan kita untuk mendaftarkan beasiswa yang dituju di formulir aplikasi. Oh iya, sebelum itu, apabila teman-teman mendaftar secara mandiri, semua proses pendaftaran dilakukan secara onlie melalui website universitas. Yang pertama dilakukan adalah melengkapi Expression of Interest (EOI), setelah mendapatkan undangan dari pihak Universitas barulah teman-teman melengkapi aplikasi pendaftarannya

(http://www.utas.edu.au/research/degrees/apply-now). Nah, dalam proses pendaftaran tersebut, teman-teman juga diwajibkan untuk mendapatkan 2 referee reports yang mengetahui latar belakang akademik dan juga potensi riset teman-teman.  Pemberian rekomendasi juga dilakukan secara online dan dikirimkan langsung oleh pihak Universitas ke alamat surel masing-masing pemberi rekomendasi yang saya nominasikan. Waktu itu saya mendapatkan rekomedasi dari supervisor S2 dan juga dari Ibu Maria Lobo, rekan kerja di FST Matematika Undana yang juga merupakan dosen saya saat menempuh studi S1. Penting diingat dan sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwa kita perlu menjalin koneksi seluas-luasnya. Mungkin pada saat ini kita belum mengetahui kepetingannya, tetapi percayalah suatu saat di masa mendatang, koneksi yang teman-teman bangun itu akan dibutuhkan. Hal lain yang juga penting dan terkadang dilupakan adalah, selama proses penantian tersebut (pengumuman beasiswa dan juga aplikasi universitas), usahakanlah untuk terus menjalin komunikasi dengan calon supervisor baik itu sekedar diskusi tentang riset atau hanya untuk menanyakan tentang perkembangan aplikasi beasiswa dan universitas.

Selamat menyelesaikan studi bagi teman-teman yang sedang menempuh studi dan juga selamat mencari beasiswa dan mendaftar kampus bagi teman-teman yang berencana untuk studi lanjut!

Oleh:  Albert Christian Soewongsono – PhD Candidate (Math) at Tasmania University. Email: albertchristian1997@gmail.com

 

MITRA Students at the 3rd Trilateral University Roundtable Meeting (TURM) 2016

IMG_3118

Student Delegates at the 3rd TURM 2016

By : Richard Williams

Students of MITRA association took part in the TURM III hosted by Nusa Cendana University Kupang. Some of MITRA Undana students were involved as the organizing committee members and chosen as Nusa Cendana University delegations for the very 1st separated Student Roundtable Meeting.

The Trilateral University Roundatble Meeting (TURM) is an annual gathering and forum held as a form of cooperation among universities in Australia (The Northern Territory Region), Indonesia and Timor Leste. The TURM was firstly initiated by some leaders of the three nations and leaders of some universities of the three countries. Among the co- founders of TURM are the former prime minister of Republica Demokratika Timor Lorosa’e (RDTL) Mr. Xanana Gusmao and the rector of Nusa Cendana University, Prof. Ir. Fred Lukas Benu MSi., Ph.D. Up to now, the members of the TURM are Gadjah Mada University (UGM) Yogyakarta, Satya Wacana Christian University (UKSW) in Salatiga Central Java, Udayana University (UNUD) in Denpasar, Hassanudin University (UNHAS) in Macassar, Mataram University (UNRAM) in West Nusa Tenggara, Nusa Cendana University (UNDANA) in Kupang, Universidade Nacionale Timor Lorosa’e (UNTL) in Dili, Universidade Oriental Timor Lorosa’e (UNTAL) in Dili, and Charles Darwin University (CDU) in the Northern Territory of Australia.

IMG_2916

Opening Speech by The Rector of Undana

The 3rd Trilateral University Roundtable Meeting was held from May 16th to May 17th with the focus on the Centre of Excellence (CoE) of each member university .Taking place at Sotis Hotel, the series of the event began on Saturday 15th May 2016 where the delegations of the participating universities of the TURM as well as other delegations from other observing universities and other invited participants were welcomed by the rector of Nusa Cendana University in a welcoming dinner at the ballroom of Sotis hotel. This year’s TURM also invited some observing universities such as Pattimura University (UNPATTI) Ambon, Halu Oleo University (UHO) Kendari, Sam Ratulangi University (UNSRAT) Manado, Artha Wacana Christian University (UKAW) Kupang, Widya Mandira Catholic University (UNWIRA) Kupang, State Polytechnic Kupang, Health Polytechnic Kupang, and Agriculture Polytechnic Kupang.

On the following day, the 3rd TURM was officially opened by the governor of East Nusa Tenggara province. The series of the sessions commenced with the roundtable discussion of the each leader of the member university who presented the progress they have made and the ongoing activities they are doing regarding the Centre of Excellence as agreed at TURM II. The session ran smoothly as expected and chaired by Prof. Ir. Fred L. Benu, MSi. Ph.D. and Prof. Sue Carthew B.Sc., Ph.D. from CDU. The next session continued with 2 separated discussions, one for the university leaders and one for the student delegations. In this session, 2 of MITRA students, Lilyen and Richard were assigned to chair the roundtable discussion while Claudya (Dije), Memix, Steven and Desy took roles as student representatives to share about students activities supporting the CoE of Undana which is Dryland Agriculture and Environment. Dije as the presenter delivered a presentation about CoE of Undana and introduced MITRA association to the rest of the attendees at once. Dije explained how MITRA which is now entering its 3rd year of existence as a platform of student empowerment and how another student bodies in Undana have done different activities to support the CoE of Undana directly and indirectly.

IMG_3093

Lizerio , delegates from UNTL East Timor

Other presentations in this session were Social Justice and Development by Albert Karwur, (Satya Wacana Christian University Salatiga), Education and Language by Jhalia Ximenes and Lizerio Dias (National University of Timor Lorosa’e), Environment by Hanna Ling (Charles Darwin University), and Marine Sciences and Fisheries by Deliama (Hassanudin University). Albert, who is the chairman of UKSW’s student senate university board stressed on the importance of equality in infrastructure development, economic growth, and opportunities for the peripheral area of East Indonesia as the focus of UKSW’s CoE while Hanna Ling explained about Manganese project she is currently doing in West Timor. In their presentation, Jhalia and Lizerio elaborated about the efforts the university and the RDTL government have made as an attempt to enhance language proficiency of the people of Timor Leste. Deliama from UNHAS delineated the programs and activities UNHAS provides for students in supporting the development of its CoE. All of the presentations also covered several points such as the subject are of the activities supporting the CoEs, the challenges and key barrier, and strategies used in tackling down the key barrier encountered by each participating university. The discussion ended with the recommendations given by all of the representatives for the possibility of joint activities for university students such as exchange program, website creation for the student alumnae and alumni of TURM III, and suggestions for the conducting of student roundtable meeting at TURM IV.

After serious series of discussions, the meeting on the last day of TURM III was focused on the issues arising from day one. Led by Prof. Ir. Fred L. Benu, MSi., Ph.D. and Prof. Sue Carthew, B.Sc., Ph.D., the session went with the discussion on the issues on day one and addition of participating universities, also the possibility of establishing a consortium. In this session, Hanna Ling delivered the resume of student discussion on behalf of the TURM student representatives before the board of leaders of TURM. of the participating universities and representatives of observing universities reached some agreement on joint research for each participating university’s CoE and got to hear some responses from all participants and observers. The whole floor also agreed to have the 4th TURM to be hosted by Hassanudin University in Macassar, South Sulawesi.

This was followed by the official closing speech by the rector of Undana who also handed over the participation certification to the delegations which also marked the closing ceremony of the 3rd Trilateral University Roundtable Meeting 2016.

Right after the closing, the daytime activities for all the participants were conducted outside the hotel, where the participants went on a city tour where they departed from Sotis Hotel passing several landmarks of Kupang such as Ina Boi-Sasando Statue, Lippo Plaza, Nostalgia Park, Hypermart Bundaran PU and Liliba Bridge to the main office of Archipelagic Dryland Field Laboratory (Agriculture Centre) located at Undana’s campus in Penfui. Next on the agenda was Kupang Bay cruise. From the campus, the TURM participants went to the seaport of Ditpolair NTT in Bolok and took a cruise around Kupang Bay.

The involvement of MITRA students in this big event is definitely beneficial as the event enabled MITRA students to tighten the relations of its members with the leaders of Undana as well as contributed to the development of CoE of Undana. The TURM has been an invaluable chance for MITRA student to also support the 3 main pillars of MITRA since the official language of TURM is English and one of the topics discussed in the roundtable discussion (the CoE) is environment. As this event is an international event, the students of MITRA also get the international atmosphere where they were able to meet and interact with academicians, scholars, students, and of course university leaders from other countries.