Beasiswa Unggulan Kemendikbud, Bantuan Penelitian, Workshop, Pelatihan dan Pagelaran – Dibuka Sepanjang Tahun 2016

beasiswa-unggulan-kuliah-s1-s2-s3
Tujuan
Mendorong kreatifitas bagi para peneliti, penulis, pencipta, seniman/budayawan, wartawan, olahragawan, tokoh dalam bidang pendidikan dan kebudayaan serta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pemberian bantuan beasiswa yang digunakan  bagi peneliti, penulis, pencipta, seniman/budayawan,  wartawan, olahragawan, tokoh serta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sesuai aktivitas dan kreativitas yang dilaksanakan.
Sasaran
  1. Peneliti;
  2. Penulis;
  3. Pencipta;
  4. Seniman/budayawan;
  5. Wartawan;
  6. Olahragawan;
  7. PNS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  8. Tokoh dan atau;
  9. Masyarakat lain berdasarkan aktivitas dan kreativitasnya dianggap layak berdasarkan persetujuan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri.
Bentuk Beasiswa
Beasiswa unggulan ini adalah kegiatan yang menunjang aktivitas penelitian, workshop, pelatihan, pagelaran, dan atau tunjangan kreativitas dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.
Komponen Beasiswa
Komponen beasiswa adalah komponen yang menunjang aktifitas/kreatifitas diusulkan oleh yang bersangkutan dan dilakukan penilaian oleh Tim Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri. Dalam hal penetapan komponen beasiswa tim Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri memperhatikan unsur – unsur: kebermanfaatan, jarak dan waktu pelaksanaan kegiatan, mendukung rencana strategis penetapan SDM Kemendikbud.
Persyaratan
  1. Registrasi online di: buonline.beasiswaunggulan.Kemendikbud.go.id
  2. Mengupload dokumen:
    • Surat permohonan kepada Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
    • Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga;
    • File Daftar riwayat hidup (curriculum vitae);
    • Proposal rencana kegiatan dan rincian kebutuhan biaya.
Seleksi
  1. Berkas yang telah dinyatakan lengkap sesuai dengan ketentuan pendaftaran Beasiswa Unggulan akan dilakukan seleksi oleh tim BPKLN.
  2. Berdasarkan hasil seleksi berkas oleh tim BPKLN  akan dilakukan validasi terhadap dokumen pendaftaran.
Penetapan
Berkas pendaftar yang direkomendasikan oleh tim BPKLN, diusulkan kepada Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri untuk ditetapkan melalui Surat Kelulusan penerima Beasiswa Unggulan.
Pelaporan
Peserta wajib melaporkan hasil berkaitan dengan kegiatan/aktivitas yang dilakukan. Mekanisme pelaporan peserta Beasiswa Unggulan wajib mengirimkan LAPORAN KEGIATAN yang diupload melalui website atau dikirimkan langsung kepada:
Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gedung C lantai 7
Jl Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
Hak dan Kewajiban
Peserta Beasiswa Unggulan berhak untuk mendapatkan dana beasiswa berdasarkan usulan yang diajukan dan ditetapkan dalam Surat Keputusan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Adapun kewajiban bagi peserta Beasiswa Unggulan, adalah:
1. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana
2. Menyelesaikan kegiatan tepat pada waktunya
3. Menyerahkan laporan kegiatan setelah menyelesaikan aktivitas.
Sanksi
Sanksi terhadap pelaksanaan kegiatan ini dituangkan dalam kontrak pemberian Beasiswa Unggulan.

Download Petunjuk Teknis

Kontak:
Sekretariat Beasiswa Unggulan
Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri
Sekretariat Jenderal Kemendikbud
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
Telp. 021-5711144 (ext. 2616)
http://www.beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id
Email: beasiswa.unggulan@kemdikbud.go.id
Advertisements

Beasiswa StuNed Kursus Singkat di Belanda – Deadline 1 September 2016

FIND THIS PHOTO - indonesian students on bike

Beasiswa StuNed berdurasi 2 – 12 minggu ini diselenggarakan di perguruan tinggi di Belanda maupun pusat keahlian lainnya. Anda yang berminat bisa mengajukan beasiswa tersebut untuk kursus singkat yang bisa diambil di Belanda. Setelah lulus peserta akan memperoleh sertifikat atau diploma.

Salah satu yang menarik dari beasiswa StuNed adalah beasiswa diberikan penuh. Beasiswa meliputi uang kuliah, biaya hidup (uang bulanan), biaya penelitian (bila diperlukan, paket asuransi (perjalanan, kesehatan, third party liability), biaya perjalanan internasional dan lokal, biaya pembelian buku-buku kuliah, serta biaya pengurusan visa.

Berikut sebagian pilihan kursus singkat di Belanda berdasarkan area prioritas StuNed.

Health Management
Analyzing Dynamics of HIV and AIDS Epidemics & Prevention (DYNHIV);Health Policy and Financing (HP&F); Gender, Rights and Health (GRH); Health SectorResponsestoHIV-innovations and synergies; Human Resources Health (HRH)

Transport, (Agro) logistic and Infrastructure
Water Transport and Distribution; Lost Harvest & WastedFood-managingthecrop supply chain for increased food security; Rural entrepreneurship: DrivinginnovationinAgri-food valuechains; Port Planning and Infrastructure Design; Urban Drainage and Sewerage;ManagementofIrrigationSystems; International Port Seminar.

Security and Rule of Law
International Development Law; International Tax Law; Governance, Democratization and Public Policy; Sustainable Local Economic Development: Policies for Small and Medium Enterprise Development; Strengthening research capacity in post-conflict areas: Increase your impact through action-oriented research; Summer School on International Criminal Law

Water
Wastewater Treatment Plants Design and Engineering; Surface Water Treatment; Resource Oriented Wastewater Treatment and Sanitation; Hazardous Waste Management; Applied Groundwater Modelling; Watershed and River Basin Management.

Agri-food and Horticulture
Organised farmers as partners in agribusiness: Optimising the performance of producers’ organisations; integrated pest management and food safety: The challenge of combining pesticide use and ensuring safe food; Practical Management Course for horticulturists

International Trade, Finance, and Economics
The Law and Policy of the World Trade Organisation; Sustainable Local Economic Development: Policies for Small and Medium Enterprise Development (LED); Effective Partnership Management; Sustainable Tourism Management (STM); Financing Social Protection.

Persyaratan Umum
1. Warga Negara Indonesia, dibuktikan dengan: fotokopi KTP atau paspor.
2. Diterima di salah satu program short course yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan tinggi di Belanda, dibuktikan dengan: Surat Penerimaan (letter of acceptance / admission letter) dari universitas di Belanda yang mencantumkan dengan jelas nama program studi, tanggal awal dan akhir program studi yang dipilih serta total biaya perkuliahan.
3. Pendidikan minimal S1 atau setara dan dapat menunjukkan bukti prestasi akademik (IPK min. 2,75); dibuktikan dengan: transkrip dan ijazah yang dilegalisir dengan tanggal dan tahun kelulusan tercantum didalamnya.
4. Pengalaman kerja (setelah lulus S1) minimal 2 tahun di institusi terakhir, dibuktikan dengan: fotokopi Surat Keputusan pengangkatan pegawai (SK) atau kontrak kerja.
5. Persetujuan dari institusi; dibuktikan dengan: pernyataan resmi dari pimpinan institusi di atas materai yang menyatakan bahwa stafnya diizinkan untuk studi di Belanda. Pernyataan ini dituliskan di formulir StuNed.
6. Pernyataan bersedia mengikuti dan menyelesaikan seluruh perkuliahan selama menerima beasiswa yang dituliskan di formulir StuNed;
7. Memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik; dibuktikan dengan: hasil Internet Based Test (IBT) TOEFL dengan skor minimal 68, atau IELTS minimal 5.5. Masa berlaku hasil tes TOEFL/IELTS maksimal 2 tahun sejak tanggal tes. (Pengecualian diberikan kepada pelamar yang menyelesaikan studi di negara yang berbahasa Inggris/program internasional maksimum 2 tahun sebelum batas akhir pendaftaran).
8. Riwayat hidup (Curriculum Vitae) dengan menggunakan formulir standar yang terdapat di website;
9. Tidak ada batas umur

Dokumen aplikasi:
1. Formulir aplikasi (Unduh)
2. Formulir CV (Unduh)
3. Salinan unconditional admission letter dari institusi pendidikan Belanda untuk kursus yang dilamar
4. Salinan skor tes TOEFL IBT minimum 68 atau IELTS minimum skor 5.5
5. Salinan SK untuk pegawai pemerintah atau ‘kontrak kerja’ untuk selainnya
6. Salinan ijazah dan transkrip Sarjana (S1) dilegalisir dan Master (S2) jika ada
7. Salinan sertifikat penghargaan atau prestasi, jika ada
8. Salinan abstrak publikasi, jika ada
9. Salinan KTP atau paspor
10. Satu lembar pasfoto warna terbaru (ukuran 3 x4)

Pendaftaran:
Lengkapi formulir aplikasi bersama dokumen yang diminta lainnya di atas. Buat rangkap dua. Lalu kirim ke:

Nuffic Neso Indonesia
Menara Jamsostek 20th floor,
Jl. Gatot Subroto No. 38, Jakarta 12710

Dokumen diterima paling lambat 1 September 2016 untuk program yang dimulai antara Januari s/d Juni 2017. Pengumuman hasil seleksi akan diberitahukan kepada semua kandidat melalui email pada pertengahan November 2016.

Informasi pertanyaan bisa menghubungi email: stunedcontact@nesoindonesia.or.id atau dapat dilihat di http://www.nesoindonesia.or.id.

Catatan Pasca Seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara Provinsi Nusa Tenggara Timur 2016

_DSC0168

Oleh : Adren Nenobesi (Delegasi Indonesia China Youth Exchange Program 2015)

Tulisan ini dibuat sebagai bahan untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi yang akan diadakan tahun depan. Pemuda – pemudi yang telah mengikuti seleksi pada dasarnya telah mengerahkan segala kemampuan yang mereka miliki meliputi tenaga, pengetahuan, serta ide – ide kreatif setelah dipicu oleh soal – soal dalam seleksi tertulis maupun wawancara oleh tim penyeleksi. Namun, ada yang mampu menjawab, ada yang melenceng, dan ada pula yang belum bisa menjawab apa yang menjadi keinginan tim penyeleksi.

Setiap tahunnya, seleksi dilakukan oleh Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) yang merupakan organisasi alumni PPAN tahun sebelumnya. Berikut adalah hal – hal yang perlu ditingkatkan dalam persiapan sebelum mengikuti seleksi PPAN, khususnya mewakili Provinsi NTT.

Pengetahuan Umum

Tim penyeleksi sangat mempertimbangkan calon delegasi yang memiliki pengetahuan umum yang baik. Gunanya agar calon delegasi yang terpilih siap untuk mengikuti atau menerima materi – materi yang biasanya dipaparkan dalam forum ataupun diskusi yang banyak dilakukan di setiap prigram. Pengertian dari terminologies umum seperti “melting pot” atau “culture shock” adalah sebagian kecil materi yang sering ditanyakan dalam tes tertulis.

Pengetahuan Nasional dan Internasional

Menjadi seorang delegasi yang mewakili provinsinya sudah pasti menjadi tugas yang membanggakan sekaligus bergengsi. Berasal dari provinsi NTT yang mungkin belum begitu dikenal oleh pemuda/i provinsi lain bukan berarti delegasi tampil dengan pengetahuan yang minim. Isu – isu Nasional seperti perbatasan, kehidupan pengungsi, maupun isu pendidikan merupakan isu yang sangat dekat dengan kehidupan pemuda/i NTT. Pengetahuan akan isu – isu tersebut menjadi modal penting bagi seorang delegasi NTT dan sering diangkat dalam soal – soal tes tertulis.

Selain itu, pengetahuan internasional juga menjadi hal penting yang harus dimiliki seorang delegasi NTT. PPAN merupakan ajang pertukaran pemuda internasional. Oleh karena itu pengetahuan akan isu-isu internasional sangat sering dibahas dalam forum-forum yang diselenggarakan selama program. Isu – isu seperti laut Cina Selatan, One Belt One Road, Bali 9, lepasnya Inggris dari Uni Eropa, menjadi contoh materi yang diangkat dalam soal – soal test tertulis. Forum – forum Nasional dan Internasional ini juga tidak jarang melahirkan ide – ide kreatif yang menjadi ciri khas seorang pemuda. Biasanya hasil dari forum tersebut dituangkan dalam “Paper of Policy“. Calon delegasi dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang “Paper of Policy“.

Pengetahuan Budaya Nasional dan Daerah

Delegasi yang akan tampil di ajang Internasional akan merepresentasikan identitas mereka sebagai wakil Indonesia di dunia dan wakil daerah untuk Indonesia. Pengetahuan tentang tarian – tarian Indonesia yang sudah dikenal di dunia seperti Saman, Kecak, Tor Tor, Jaipong; lagu Nasional dan Daerah; tempatwisata alam dan berbagai budaya lainnya, sering digali lewat soal tes tertulis. Untuk budaya daerah, delegasi NTT harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang karakteristik budaya tiap – tiap daerah di NTT.

Sebagai wujud nyata dalam merepresentasikan budaya NTT, calon delegasi dituntut memiliki salah satu kemampuan seni budaya seperti menarikan tarian daerah, menyanyi lagu daerah atau memainkan alat musik tradisional. Penyeleksi sangat mempertimbangkan calon delegasi yang menguasai salah 1 tarian daerah dan mampu mengajarkannya kepada delegasi dari provinsi lain. Hal ini sebagai sarana penting dalam mempromosikan budaya daerah NTT di depan khalayak Nasional maupun Internasional.

Pengujian untuk pengetahuan budaya ini biasanya dilakukan dalam tes tertulis dan wawancara. Walaupun di provinsi lain biasanya calon delegasi diminta untuk melakukan peragaan seni budaya daerah. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa di tahun – tahun mendatang, seleksi akan meliputi penampilan seni budaya.

Bahasa Inggris

Tidak dapat dipungkiri bahwa Bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional. Calon delegasi PPAN harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Bahasa Inggris merupakan salah satu yang diujikan oleh tim penyeleksi.

Post Program Activity (Kegiatan Pasca Program)

Sesuai dengan instruksi dari Kementrian Pemuda dan Olahraga (KEMENPORA) tentang seleksi pertukaran pemuda, KEMENPORA mengharapkan pemuda yang terpilih untuk terlibat aktif dalam kegiatan pengembangan masyarakat melalui kegiatan pasca program atau post program activity yang ia rancang sendiri atau bersama komunitasnya. Kegiatan pengembangan masyarakat ini bisa meliputi kegeiatan pengembangan pemuda, anak-anak, maupun orang tua yang dibuktikan dengan proposal atau business plan kegiatan, laporan kegiatan, surat keterangan, maupun sertifikat yang membuktikan bahwa pemuda tersebut terlibat aktif ataupun akan dalam kegiatan yang dimaksud. Kegiatan – kegiatan  seperti menjadi relawan, kegiatan kepemudaan rohani, pengajaran luar sekolah, kelompok bisnis, pertanian, atau koperasi yang akan atau sedang dilakukan, akan menjadi bahan petrimbangan tim penyeleksi. Program – program tersebut biasanya dikontrol oleh KEMENPORA melalui proposal kegiatan yang disusun oleh pemuda calon delegasi, dengan dibantu oleh Dispora dan PCMI NTT. Tujuan KEMENPORA meminta delegasi untuk menyusun dan menjalankan post program activity adalah agar program pertukaran pemuda PPAN ini tidak hanya bermanfaat bagi indifidu atau delegasi itu sendiri, melainkan juga berdampak dalam pembanguan bangsa. Oleh karena itu, tim penyeleksi sangat mempertimbangkan program yang aplicable dan tidak muluk – muluk dibandingkan program yang terlalu hebat namun sulit dijalankan. Contohnya, Dispora lebih memilih program mengajar menbaca dan menulis untuk siswa putus sekolah dibandingkan pembangunan sumur bor di suatu desa yang kekurangan air bersih.

Akhir kata, selamat untuk peserta yang telah lulus dan terpilih untuk mewakili Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam ajang Pertukaran Pemuda Antar Negara yang akan melakukan kegiatan Pasca Program yang bermartabat dan bermanfaat bagi Pembangunan Bangsa. Bagi pemuda/i yang belum berhasil dalam seleksi, bersiaplah dan kembangkan diri kalian sebaik mungkin agar dapat lulus dalam seleksi-seleksi PPAN di tahun berikutnya.

Salam Pemuda.

 

Beasiswa PhD Untuk Kuliah di USA bagi Lulusan S1 atau S2 – Deadline 31 Desember 2016

arfellows2017

The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) mengundang lulusan muda berbakat dari Indonesia (minimal gelar S1) untuk mendaftar Arryman Fellows award 2017. ISRSF mencari pelamar di bidang ilmu politik, sejarah, hukum, jurnalistik dan komunikasi, antropologi, sosiologi, atau studi pembangunan.

Persyaratan untuk mendaftar Arryman Fellows Award:

  • Warga negara Indonesia
  • Lulusan universitas dengan setidaknya gelar S1 pada tanggal batas waktu pendaftaran
  • Memiliki catatan yang baik dalam kinerja di program yang telah dijalankan (tidak diharuskan memiliki gelar S2)
  • Belum dalam program PhD
  • Memiliki komitmen yang tinggi untuk menjadi akademisi yang akan mengabdikan diri di bidang akademik termasuk mengajar, penelitian, dan publikasi dalam ilmu sosial dan humaniora
  • Memiliki skor IBT TOEFL minimal 80 atau IELTS 6,5 pada tanggal tes setelah 1 Juni 2015

Untuk melengkapi aplikasi online, silahkan kunjungi http://applicant.isrsf.org. Sebelum mengisi aplikasi, pastikan membaca penunutunya di UserGuide. Deadline aplikasi termasuk Letter of Reference adalah 31 Desember 2016

Informasi lebih lanjut : http://isrsf.org/call-for-2017-arryman-fellows

 

Apply for Short Term Awards: International Business Readiness-Jewelry Design (Januari 2017) – Deadline 3 September 2016

Apakah Anda pengusaha dan perancang yang bergerak di bidang perhiasan tradisional Indonesia yang ingin memperkenalkan produk perhiasan ke tingkat dunia?
Raih kesempatan untuk mendaftarkan diri mengikuti kursus singkat selama dua minggu di Australia untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian di bidang bisnis internasional dan menghubungkan dengan peluang pasar.
Kursus singkat ini merupakan beasiswa penuh dari Australia Awards. Seluruh biaya kursus, perjalanan, akomodasi dan uang saku ditanggung oleh Australia Awards.Kursus ini dilaksanakan untuk mendukung pelaku bisnis perhiasan dengan meingkatkan pengetahuan dan keahlian di bidang bisnis internasional dan menghubungkan mereka dengna peluang pasar. Program ini bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi perkembangan ekonomi di bidang perhiasan tradisional Indonesia.
Persyaratan Peserta :
  • Pemilik atau manager bisnis perancang perhiasan yang sudah berjalan selama 3 tahn atau lebih
  • Perhiasan berasal dari bahan- bahan tradisional yang berasal dari Indonesian atau sebagian besar merupakan bahan kerajinan tangan
  • Perwakilan dari pimpinan atau guru atau pelatih dari lebaga pendidikan kejuruan dan desain yang bisa mengkomunikasikan pesan kunci dari tujuan ini kepada khalayak di Indonesia
  • Pejabat senior dari kementrian yang terkait di Indonesia seperti Kementrian Perdagangan, Usaha Kecil dan Menengah, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Orang dengan disabilitas sangat dianjurkan untuk mendaftar.
Kirimkan aplikasi Anda sebelum tanggal 3 September. 
13882302_10209443610074594_5054257426032533536_n

Apply for World Young Women’s Christian Association (World YWCA) Internship Programme 2017

Interns-pic-1-300x219

Setiap tahun, World YWCA menawarkan dua atau lebih Program Magang selama setahun dan dua program magang jangka pendek untuk wanita muda penggerak hak-hak perempuan dan perubahan global. Periode aplikasi untuk Program Magang World YWCA  2017 telah dibuka. Batas waktu aplikasi untuk program magang satu tahun adalah September 30, 2016 dan batas waktu untuk aplikasi program magang jangka pendek adalah 30 November 2016.

Program magang satu tahun memberikan kesempatan bagi dua perempuan muda untuk bekerja sebagai bagian dari staf World YWCA dan tim relawan di Jenewa. Melalui program magang ini, akan ada kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dalam advokasi melalui komunikasi. Selain itu akan ada program yang berprioritas pada kekerasan terhadap perempuan, kesehatan seksual, kesehatan reproduksi, hak asasi, HIV, dan kepemimpinan perempuan muda.

Dua kandidat terpilih magang satu tahun akan mendapatkan keuntungan berupa :

  • Kesempatan pelatihan kepemimpinan, platform komunikasi, pengembangan program dan advokasi;
  • Pengalaman bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional dan agensi United Nation (UN) termasuk mewakili the World YWCA di pertemuan – pertemuan UN and LSM Internasional;
  • Terlibat dalam proyek – proyek komunikasi seperti Monthly E-bulletin, World YWCA website, She Speaks blog, social media dan on line campaigns;
  • Mengembangkan keterampilan dalam tata pemerintahan yang baik, pengembangan proyek, team building, administrasi, perencanaan acara dan keuangan;

Program ini merupakan kesempatan bagi perempuan muda untuk tumbuh dan mengembangkan kepemimpinan mereka. Selain itu, program magang juga bertujuan untuk meningkatkan jumlah pemimpin muda yang berpengalaman dan terlatih secara global untuk dapat kembali ke asosiasi mereka dan berbagi apa yang telah mereka pelajari.

Aplikasi untuk program ini dapat dikirim ke worldoffice@worldywca.org

Terms of Reference One year internship

Terms of Reference Short-term year internship

Application Form

Endorsement Form

Informasi selengkapnya dapat diperoleh di http://www.worldywca.org/ywca_newses/call-for-applications-world-ywca-internship-programme/

The Peace Memorial in the City of Hiroshima and the Story of A Japanese Cave in the Island of Biak

By: Johni Korwa

This short article aims to let people know about a less well-known story of Japanese people in the island of Biak, West Papua.  During World War II (The Pacific War), Biak Island wasof paramount importance for the US and Japanese army due to its strategic position. The reason I write this story is simply because I was given the opportunity by Flinders University (Australia) as part of the Summer School Programs at Hiroshima University to experience, first-hand, commemorative events in Hiroshima surrounding the 1945 atomic bombing and thought it would be valuable to share Biak’s story to help us remember the history of loss including the loss of thousands of Japanese people there.

Picture1

Visitors seating at Peace Memorial Ceremony

Picture2

The Prime Minister of Japan, Shinzo Abe, was delivering his speech

While it is true that Japanese people were also committing atrocities upon indigenous Biakat the time of war, this story focuses entirely on the alternative side of history. We often remember history from the perspectives of the victors of war. However, there are some interesting insights which can be gained from focusing on the stories of those who were defeated. Perhaps most notably, there may be great potential for insights which can be derived from third party accounts such as the stories of people from Biak.

This article also aims to highlight the interesting parallels seen between Hiroshima and Biak. To get the ball rolling, let me give you a bit of a geographical background of these two regions. Hiroshima is an island located in the southwestern part of the Japanese islands and home to 1,196,067 people (2016). While Biak is one of the regencies in West Papua Province of Indonesia, whose population is 156,023 people (2014). Hiroshima is a historical city whilst Biak is a scenic island.

Picture3

Picture4

Hiroshima is a well-known city in the history of humankind for more sobering reasons. Hiroshima was one of the few places in the world to experience the destruction and fallout of a nuclear weapon.The nuclear bomb was dropped by the United States Army Air Force 71 years ago resulting in the deaths of more than 60,000 people. It was the day when an atomic bomb was dropped on the earth for the first time in the world. To remember those who lost their lives, a ceremony for peace is conducted every year in Hiroshima. This year, I was tremendously honored to participate in this ceremony.

Picture5

Hiroshima Peace Memorial (GenbakuDomu) – a UNESCO World HEritage Site in 1996

Picture6

“Hibakusha” is the Japanese words for the survivor victims of the atomic bombs in both Hiroshima and Nagasaki

Obviously, the event had far-reaching implications for society and the environment. Hiroshima has thus become a symbol of the destructive and violent nature of humanity. According to the Peace Declaration 2016, the nuclear weapon is expected not to be used in the near future under any circumstances. A man who described Hiroshima as a living hell says that, “For the future of humanity, we need to help each other live in peace and happiness with reverence for all life.” In this sense, ‘Peace’ is extremely important to be established in order to reduce the likelihood of nuclear war and Mutually Assured Destruction (MAD).

Picture7

Candles after Peace Memorial Ceremony

Picture8

Lantern Ceremony on the Motoyasu River in Hiroshima

Compared to the history of Hiroshima, the Japanese people in Biak have experienced different trials. These trials took place in the context of the many battles which around Biak Islandsuch as Mokmer, Bosnik, Sorido, Parai, Island of Owi, and many more. The conflictbetween the US and the Japanese army was particularly destructive.

In 1944, Japanese people discovered a cave which was later considered as a bunker to fight against the US troops at the time. According to the ancient story, the cave was previously occupied by an old woman, called “AbyauBinsar”in the language of Biak (WosByak), but she disappeared as soon as the Japanese army took that place.

Picture9

The Japanese Cave, Biak

Picture10

Skeletons of Japanese Soldiers, Biak

Entering the cave from Paray beach, the Japanese soldiers were able to shoot down the US planes from their hiding place. However, the US military found out the cave and then launched an attack at dawn on July 7, 1944. In doing so, they bombed the cave from the top and dropped drums of gasoline into the cave causing the deaths ofaround 6,000 Japanese troops; it was later known as the Japanese Cave (Indonesian language: Goa Jepang). Owing to this, in 1992 the Japanese government established the Second World War Monument in the coast of Paray Beach, whose Japanese architecture is Hiroshi Ogawa. Similar to Hiroshima Peace Memorial, the Biak Monument also sketch out the bloody war and records such an event not to take place in the future (the message of peace).

Picture11

Peace Memorial Park (Hiroshima)

Picture12

The Second World War Monument (Biak)

Additionally, it is a surprise to know that the word ‘Japan’ is used by the people of Biak to refer to ‘Taro’ food staples in the Papuan language of Keladi. Furthermore, when Byaki people say ‘Thank you’, they say ‘Kasumasa” which also sounds similar to Japanese language.

In summary, both Biak and Hiroshima share a common story in which a large number of Japanese people died in these two regions during World War II. I think it is important to have a sense of history and understanding of the past in order to look forward to the future. Such historical understanding will help us build a foundation of contextual awareness important for peace and harmony among nations today. As written by President Obama in the visitor’s book during his visit to Hiroshima in 2016, “We have known the agony of war. Let us now find the courage, together, to spread peace, and pursue a world without nuclear weapons”. Learning from the past war will absolutely make the world a better place to live.

REFERENCES

Biak Numfor Regency

https://en.wikipedia.org/wiki/Biak_Numfor_RegencyCHAPTER XII Biak: The Plan, the Landing, and the Enemy

https://www.ibiblio.org/hyperwar/USA/USA-P-Approach/USA-P-Approach-12.html

Goa Mistis di Biak Tempat Tewasnya 6.000 Tentara Jepang

http://travel.detik.com/read/2015/07/06/171259/2961763/1519/goa-mistis-di-biak-tempat-tewasnya-6000-tentara-jepang

History of the Biak operation

http://www.dtic.mil/dtic/tr/fulltext/u2/a550758.pdfHibakusha – Wikipedia, the free encyclopedia

https://en.wikipedia.org/wiki/Hibakusha

MonumenPerangDuniaKe II Parai – Biak Numfor

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbpapua/2015/04/13/monumen-perang-dunia-ke-ii-parai-biak-numfor/

Peace Declaration in Hiroshima (August 6, 2016)

Population News of Major Cities

http://www.city.yokohama.lg.jp/ex/stat/jinko/city/new-e.html

Bahasa Inggris Pas-Pasan, Bikin Bule Berkesan.

 

Oleh : Slamet Triyono

Bule ke Kupang ? ada apa ?

Banyak yang belum tahu bahwa setiap akhir bulan Juni hingga awal Juli, Universitas Nusa Cendana (Undana) mengadakan program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Program yang telah berjalan selama tiga tahun antara Universitas Nusa Cendana (Undana) dan beberapa Universitas di Australia, seperti Universitas Charles Darwin, Universitas Sunshine Coast dan Universitas Tasmania ini, merupakan wadah  bagi mahasiswa Australia berkunjung ke Indonesia khususnya Kupang dan belajar bahasa Indonesia serta budaya lokal yang ada di Kota Kupang selama tiga minggu.

Menariknya, program BIPA dibuat seperti layaknya kita belajar di kelas namun dengan suasana yang lebih santai. Setiap mahasiswa BIPA juga ditemani oleh pendamping atau biasanya disebut dengan “buddy”. Para buddy yang menemani mahasiswa BIPA merupakan mahasiswa dari MITRA dan UniBRIDGE. MITRA merupakan asosiasi Mahasiswa Indonesia Timur Relasi Asing yang dibentuk di Universitas Nusa Cendana, sedangkan UniBRIDGE merupakan sebuah program pembelajaran bahasa dan budaya secara (masukkan website UniBRIDGE) online, dimana didalamnya mempertemukan mahasiswa dari berbagai fakultas di Undana dan Australia. Jadi, bisa dikatakan BIPA merupakan kesempatan bagi mahasiswa MITRA dan UniBRIDGE untuk dapat saling bertemu dan belajar Bahasa Inggris dan Budaya baru secara langsung.

Para buddy baik MITRA maupun UniBRIDGE yang tergabung dalam kegiatan BIPA, merupakan mereka yang berasal dari berbagai bidang keilmuan yang berbeda-beda dan bekerja secara sukarela membantu mahasiswa BIPA mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari di kelas dan mengaplikasikannya kedalam komunikasi sehari-hari. Diharapkan dengan terus melakukan komunikasi dan berinteraksi, dapat memberikan pengalaman bagi kedua mahasiswa dari dua benua yang berbeda ini.

13439180_1223636870993546_6121950314483221295_n

Bersama mahasiswa BIPA melakukan pengabdian mengajar Bahasa Inggris di Oesapa (MITRA Mengajar)

Bagaimana mereka Belajar ?

Mahasiswa BIPA yang datang ke Kupang dibagi kedalam enam level yang menentukan tingkat penguasaan dan pengetahuan mereka akan Bahasa Indonesia, level satu merupakan level dimana mereka perdana dalam memulai belajar Bahasa Indonesia, level dua hingga tiga, merupakan level dimana mereka memulai untuk berdialog dan melakukan wawancara sederhana, level empat dan lima merupakan level dimana para mahasiswa mempelajari Budaya Indonesia dan level enam merupakan level dimana mereka berdiskusi dan membahas masalah sosial dan politik yang ada di Indonesia.

13680781_1140745069280466_6957826961620775550_n

Bersama dengan para mahasiswa BIPA Australia

Bahasa Inggris masih belum bagus, bagaimana ?

Perkenalkan nama saya Slamet Triyono, alumni Ilmu Komunikasi Undana. Bahasa Inggris memang menjadi kunci untuk menciptakan komunikasi yang efektif, namun disisi lain hal ini juga merupakan masalah tersendiri bagi mereka yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris pas-pasan, hal ini pulalah yang saya alami ketika pertama kali diajak untuk mengikuti kegiatan BIPA.

Menurut saya, bahasa inggris yang bagus bukan jaminan utama seseorang mampu menciptakan komunikasi yang bermakna. Niat untuk belajar dan etika kita adalah modal awal dalam memulai sebuah komunikasi dengan orang lain, ketika saya berkomunikasi dengan Bule, seringkali terbatas dalam penguasaan kata, terbata-bata dan sering berakhir dengan kata “im sorry, please forget that”. Hal tersebut bukan berarti kita dicap payah oleh Bule, mereka justru mengerti keadaan kita dan mereka tidak merasa hal itu merupakan masalah dalam berteman, karena mereka juga memiliki perasaan yang sama ketika mereka mempelajari Bahasa Indonesia.

Perasaan kecewa ketika tidak bisa berbicara dan membantu mereka sebagai buddy pasti ada, namun hal ini bukan menjadi penghalang, terkadang mencampur bahasa merupakan hal yang lumrah, saya mencoba untuk menggunakan Bahasa Inggris dan mereka membalas dengan mencoba berbahasa Indonesia, merupakan hal yang membahagiakan dan memiliki kesan tersendiri bagi saya dan juga mereka.

13615460_1083372665089098_1764766078144958046_n

Menemani beberapa mahasiswa dan instruktur BIPA mengikuti upacara adat pernikahan di Soe

Tiga minggu mendapatkan teman baru memberikan banyak hal menarik, menurut saya, bule itu lebih “to the point”. Ketika mereka berkata pada kita bahwa mereka senang berteman bersama kita dan berterima kasih atas bantuan dari kita, hal itu merupakan kebahagiaan tersendiri dan menjadi motivasi untuk memperbaiki diri agar dapat belajar Bahasa Inggris dengan lebih baik kedepannya.

Bahasa Inggris yang belum lancar bukanlah penghalang untuk takut berbicara dengan orang asing, niat baik dan ketulusan itu lebih jujur dan lebih kuat dalam menciptakan makna serta kesan, ketika kita bisa menciptakan hal-hal yang nyaman dan menyenangkan bersama orang lain, maka kesulitan mengucapkan Bahasa Inggris bukanlah kesalahan yang berarti, terus berusaha dan belajar serta membangun komunikasi yang baik justru dengan demikian kita bisa mendapatkan teman serta bisa belajar dan melatih Bahasa Inggris secara langsung dengan teman-teman dari Negara lain. Mari mencoba berbahasa Inggris, kalau bukan sekarang, kapan lagi ? Kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi ?.

 

13631642_801218080015131_7600663044777194266_n

Mengajak mahasiswa BIPA bersilahturahmi di rumah teman yang merayakan pada saat Lebaran

 

 

 

MITRA Students at the Asia Pacific Week 2016

By : Richard William

Under the theme ‘Forward Thinking’, the Asia Pacific Week 2016 was successfully held from June 23 until July 1 at the Australian National University in Canberra. Entering its sixth year, the student-run conference brought together 80 international students from many countries to spend a tightly scheduled series of event where every delegate had the chance to build deep understanding on major and complex issues that Asia and the Pacific region faces with the leading scholars, policy makers, diplomats and the experts of the region, learn and engage with other delegates and the organizing committee members, and most importantly get to experience the freezing winter of Canberra.

MITRA as a student-based association has consistently sent its representatives to join the conference for 3 years in a row since 2014. Luckily, Ellysabeth Surat Lelan (Ellys) from MITRA Universitas Cendrawasih Jayapura, Nurhildayati (Nur) and I from MITRA Universitas Nusa Cendana Kupang were selected to attend the conference this year along with other 77 international students from countries in Asia, America, Australia, Europe and the Pacific Islands.

The Conference Sessions

Picture2

Forward Thinking: Learning from the Past, Shaping the Future.

Throughout the week, the conference was filled with different sessions consisting of panel presentations and discussions, 3 Minute Thesis Competition, War Games, The Pitch and also Great Debate which brought the delegates to think beyond and deeper related to the topics and issues discussed during each of the sessions.

In each panel session, different topics were discussed such as Challenging Growth, Cyber and Media, Reconciliation, Democracy Counterfactuals, Gender, Sexuality and Social Change, Security, Climate Change, and Asia’s Great Powers. Among all of these topics, my favorite topic was Challenging Growth session as it was the very first session we had at the conference. As the first topic, this topic also covered the general idea of other topics discussed within the week.

Picture3

From the 3 Minute Thesis Competition, I learnt the importance of employing communication skills when delivering a presentation. This session really challenge those who participated to give a presentation in such a concise, creative, and engaging manner with only 3 minutes to present. In this session, our fellow delegates who had done writing their theses or were currently writing their theses were given the chance to deliver their presentations in front of the 3 judges. One of the 3MT competition participants was MITRA’s international advisor, Nick Metherall who talked about his research on the effectiveness of Wide-Scale Community-Driven Development Programs in Indonesian peripheral province of East Nusa Tenggara in comparison to the core province of West Java.

Picture4

This year the War Games returned to the APW again under the conflict of South China Sea. This special session challenged us to stand as representatives of a country, international organization, or UN body and work together in a real-life conflict simulation exercise. I was in China PLA-G (People’s Liberation Army- the Ground Forces) group and we stood for defending China in South China Sea dispute together with all PLA forces and the Chinese Government and Chinese Communist Party.

The Pitch was also a special session where we’re divided into groups and stood to convince the judges on an idea/ proposal which is based on ‘The Gruen Transfer’ television show and its segment’ The Pitch’. I was in group 7 who proposed the idea that Chinese/Lunar New Year should be a holiday in all countries and luckily our group won.

The Great Debate as one of the conference’s agendas brought 2 teams facing against each other using Oxford-Style debate on the topic ‘Learning Asian Language should be compulsory in every nation’s education system.’ In this debate, 3 of the delegates were chosen to form a opposition team against ANU’s academics. They were Amanda Gilbride, Brian Bulat Nurmukhanov, and Shumi Ruan. At the end of the debate, we got to decide which team should be the winner and most of the delegates chose APW delegates team.

Additional Activities

Make the most of it!

Picture6

Beside panel sessions, all delegates also had other activities such as Canberra City Tour on the first day to visit Australian National Museum and Australian Parliament House. The delegates also had Pizza Night, Feast of Strangers, and Split Dinner.

When we visited Australian National Museum we were split in different groups where we were introduced to the history and stories of aboriginal people there. During the Pizza Night, we had Feast of Strangers where we had to talk to other delegates whom we hadn’t talked to before. We were given a list of questions on different topics that should be used in the conversation. In the split dinner every group headed to different nearby restaurants. My group went to Indian restaurant and we had Indian curry food there.

Picture7

Dialogue & Networking Opportunities

Mingling, Making Friends, and Sharing Knowledge

The conference didn’t only offer international learning atmosphere to its delegates as in Democracy Counterfactuals, we went to different classroom to have the ANU-style lecturing experience. More than that, we were given the chance to freely engage in conversation with other delegates as well as the key-note speakers and the committee members before and after the sessions. During the breakfast, lunch and dinner we could easily mingled with others and just suddenly jumped in to the conversation which ranged in various random topics. This opportunity was very helpful and beneficial for MITRA students to introduce MITRA, talk about current issues in the Eastern region of Indonesia, and most importantly practice and improve our English with other delegates. By doing this, we were able to exchange our perspectives and ideas and share our knowledge since the delegates come from different social, cultural, and educational background which made the conversations even more interesting.

Picture8

Enter a caption

One of the delegates who really astounded me was Menuka Menu from Nepal. She is a woman activist who struggles to break the cultural system in Nepal that only benefits the men and puts the women as subordinates of men. She inspires me with her story on how she tries to pursue her dreams by studying abroad and coming back to Nepal to dedicate herself for the fate of women in Nepal.

Picture9

We really enjoyed our time spent during the week. One thing we’re really grateful for is the acknowledgement from the organizing committee given to MITRA. Besides making us super happy, it also helped us to introduce MITRA to other delegates who were so curious about MITRA as well.

Picture10

Picture11

During the conference we also had the chance to met his Excellency the Indonesian Ambassador of Indonesia for Australia and Vanuatu, Mr Nadjib Riphat Koesoema, who was one of the panelists of the Ambassadors’ Panel for our 13th session. We got the opportunity to discuss with him and introduced MITRA to him.

Lastly, we hope that our stories from the APW 2016 can inspire more MITRA students to  continue chasing their dreams and get the same opportunity to attend international scale events.