Kelas Daring IELTS NTT’s Webinar Series #1: What Makes a Company Successful – With Tom and Albert from London

Taking place on Kelas Daring IELTS NTT’s Facebook Page, our first webinar series was started by having Thomas Barker (Tom) and Albert Codorniu (Albert) as guest speakers to talk about business-related courses. The session itself lasted for approximately an hour … Continue reading

Notulensi “Bincang-Bincang Tes SBK Beasiswa LPDP Bersama Kelas Daring IELTS NTT” (Bagian II)

Bagian I notulensi diskusi tes SBK Beasiswa LPDP bersama Kelas Daring IELTS NTT dapat dibaca pada tautan ini: https://assosiasimitra.wordpress.com/2019/10/12/notulensi-bincang-bincang-tes-sbk-beasiswa-lpdp-bersama-kelas-daring-ielts-ntt-bagian-i/

Martha: Terima kasih kak Albert dan kak Kristian, para peserta sepertinya semangat sekalikak untuk membahas tentang esssay on the spot ini, semoga membantu ya jawaba-jawaban yang telah diberikan narasumber :). Kami juga tentu berharap rekan-rekan yang ada di grup diskusi ini semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuan diri dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi! Semangat rekan-rekan!:). Pertanyaan lainnya kak:

  1. Bagaimana tips mengerjakan tes kepribadian?(Ertus)
    Saya rasa ini sudah dijawab ya, namun silahkan jika narasumber ingin lebih menjelaskan
  2. Apakah prestasi dan kegiatan yang diikuti harus dibuktikan dengan sertifikat?(Watul)

Kris: Mungkin saya menjawab nomer 2 ya kak. kalau saya kemaren tidak pada saat pendaftaran.

Albert: Saya jawab pertanyaan kedua ya:

Ya sebaiknya begitu. Pada waktu pendaftaran, ada bagian tersendiri untuk mengunggah sertifikat-sertifikat penghargaan yang pernah diperoleh. Sebenarnya banyak yang tidak sadar, kalau jejak digital seperti publikasi di media massa online maupun artikel itu juga dapat dimasukkan. Dimana memasukkannya? bisa dimasukkan linknya dalam esai pendaftaran yang dibuat. Jadi ini juga merupakan salah satu tips ketika menulis esai untuk pendaftaran. Supaya dapat memuat sebanyak mungkin informasi yang relevan, untuk itu silahkan saja dimasukkan linknya untuk yang menilai bisa membaca lebih lanjut. Gimana kalau tidak ada jejak digital seperti artikel di media massa? ya dari sekarang teman-teman bisa membuat blog pribadi untuk memulai menulis. Saya kembalikan ke moderator 🙂

Martha: hehee iya kak, semoga semakin banyak yang tergerak hatinya untuk menulis artikel yang bermanfaat ya kak. Baik, selanjutnya kak,

  1. Apakah ada rekomendasi belajar online untuk TPA? (Adis)
  2. Apakah bisa diberikan contoh-contoh topik atau isu untuk esai? (Adis)

Albert: Saya dulu kalau TPA belajar sendiri sih, tapi ide bagus juga. Mungkin nanti kelas daring ini bisa dibuka untuk mencakup TPA juga.

Kris: Terima kasih kak buat pertanyaannya…

  1. saya kemarin lihat di website http://www.tryout.id
  2. Kemarin saya dapat isu mengenai demam berdarah. Mantap kak🙏, untuk nomer 2 sendiri saya dapat kalimatnya kurang lebih seperti ini “Anda adalah seorang mentri kesehatan dan wabah di indonesia yang lagi concern sekarang yaitu demam berdarah. kira2 apa yang akan buat untuk menanggulangi wabah tersebut? “

Martha: Wah tentu akan sangat bermanfaat ya kak Albert jika akan diadakan kelas daring khusus untuk TPA, oleh karena itu rekan-rekan jangan lupa ya berikan like di halaman FB Kelas Daring IELTS NTT 2019 dan follow akun IG kami @kelas_daringieltsntt2019 untuk info-info diskusi ke depannya 🙂

Martha:  Terima kasih kak untuk jawabannya, silahkan rekan-rekan juga terus mencari informasi dan berita terkini agar siap dengan topik apapun yang akan diberikan nanti :). Berikutnya kak

  1. Apakah EOTS harus menggunakan bahasa Inggris? (Aisyah)
  2. Apakah bisa jika S1 nya adalah sarjana pendidikan bahasa inggris kemudian ingin mengambil jurusan psikologi utk S2? (Aline)

Albert: Saya jawab ya.

  1. Kalau melamar ke universitas luar negeri, wajib menggunakan Bahasa Inggris dalam penulisannya.
  2. Terima kasih sudah bertanya. Sebenarnya definisi linearitas di sini bukan berarti harus sejalan dengan latar belakang pendidikan sebelumnya, tetapi lebih ke yang saat ini bekerja dalam bidang apa. Ini diperlukan untuk justifikasi teman-teman ketika menulis esai untuk pendaftarannya.

Martha: Baik, saya rasa sudah cukup menjawab. Pertanyaan berikutnya kak

  1. Apa setiap tahun jumlah soal TPA sama? Sstandar TPA apa yang digunakan, apakah OTO Bappenas atau LPDP punya standar tersendiri?(Lucky)
  2. Bagaimana cara mengerjakan soal nomor 36 di contoh soal TPA yang dibagikan?(Ertus)

Albert:  Saya jawab ya

  1. Silahkan dijawab Kristian.
  2. Okay, karena ini tidak terlalu besar juga angkanya, jadi ada dua pendekatan di sini yang bisa dipakai. 1) kalau punya kemampuan hitung cepat, bisa dicoba-coba masing-masing pilihan jawabnnya 2)kalau mau pengerjaan yang terstruktur berarti seperti ini ya: Misalkan x = kapasitas total bejana, maka dari pernyataan bisa ditulis: 1/3(x)+ 3 =1/2(x) => 1/6(x)= 3 => x = 18

Kris: Kalau Tes TPA sendiri baru ada tahun ini ya, dan untuk apakah standarnya sama atau tidak saya tidak tahu karena saya belum pernah ikut Tes OTO Bappenas namun menurut penjelasan teman saya seusai tes kurang lebih standarnya sama yaitu 50% benar dinyatakan lulus, perbedaannya yang saya ketahui dari penjelasan teman saya yang sudah mengikuti keduanya hanya poin benarnya yaitu LPDP benar 1 dapat 3 dan OTO Bappenas benar 1 dapat 5. Dari bentuk soal saya tidak bisa menjelaskan namun dari buku yang saya baca kurang lebih sama bentuk soalnya.

Martha: Baik terima kasih kak. Lanjut ya kak ke pertanyaan berikutnya.

  1. Saat sesi EOTS dikasi kertas utk buat semacam kerangka essaynya bru diketik ke komputer atau tidak?
  2. Hasil EOTS kita jadi bahan acuan saat wawancara atau tidak?
  3. Ada info bahwa Saat mengerjakan EOTS akan diberikan semacam artikel/berita terkait topik yg hrus ditulis, pertanyaannya: essay yang  kita tulis hrus berdasarkan info dri berita yg ada atau bisa ditambahkan sesuai pengetahuan kita? Kalau boleh ditambahkan, batasannya seperti apa ya? Boleh opini atau informasi yg pasti sesuai fakta. (Dika Putri)

Kris: Menurut saya,

  1. Saat sesi EOTS kemarin saya diberikan kertas tapi hemat saya karena waktunya cukup terbatas untuk Essay sebaiknya langsung dibuat dikomputer dan dikoreksi setelahnya sehingga lebih efektif.
  2. waktu saya kemarin tidak ada pertanyaan mengenai EOTS.
  3. Iya benar saya setuju dengan K Albert kalau punya pengetahuan lebih silahkan dijelaskan dan ada sumbernya sebaiknya dicantumkan. namun bila tidak ada diisi sesuai pendapat teman-teman karena EOTS ingin mengetahui pendapat teman-teman.

Albert: Terima kasih sudah bertanya

  1. Dulu waktu jaman saya, belum pakai komputer. Jadi hanya diberikan kerta saja yang berisikan juga topik esainya.
  2. Waktu itu tidak sih. Wawancara lebih banyak berorientasi pada esai pendaftaran yang ditulis.
  3. Ya benar, jadi kalau punya pengetahuan lebih tentang topiknya silahkan ditambahkan. Opini tidak apa-apa, tetapi kalau tau datanya atau sumbernya silahkan dimasukkan saja.

Martha: Baik, saya rasa sudah cukup terjawab ya. Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 19.00 WITA, maka saya menutup pertanyaan-pertanyaan baru yang masuk 🙂 Kita akan lanjut ke pertanyaan berikutnya.

  1. Bagaimana jika kegiatan yang diikuti tidak diberikan sertifikat, apakah saat tes akan diminta sertifikatnya? (Santy)
  2. Apakah ada kuota dalam seleksi beasiswa LPDP? (Ivana)
  3. Apa tips mengerjakan soal numerik?(Haniva)
  4. Bagaimana cara mengerjakan soal nomer 20, mohon tips-tipsnya (Ivana)

Kris:  Menurut saya,

  1. Kalau pengalaman saya kemarin LPDP tidak meminta bukti fisik sertifikatnya tapi saat wawancara ada beberapa kegiatan yang ditanyakan namun lebih banyak fokus pada essay yang kita tulis tentang rencana dan proposal studi.
  2. Perbanyak latihan soal dan bekerjalah diwaktu yang tidak tepat (ini tips dari kak Albert sebenarnya) waktu itu saya juga bertanya hal yang sama.

Albert: Terima kasih untuk pertanyaannya

  1. Nah untuk itu bisa diakali. Caranya? Buat artikel sendiri yang bercerita tentang kegiatan itu.
  2. Tentu ada, tetapi tidak tahu berapa ya. Itu rahasia LPDP sendiri.
  3. Harus didentifikasi dulu masalahnya apa. Apa itu memahami soalnya atau berhitung cepatnya. Nanti solusi bisa diberikan sesuai masalahnya.
  4. Tips cepat: mulai dulu dari pernyataan yang merupakan fakta tunggal dan bukan kondisi. Contoh dari soal: berarti mulai dlu dari [7]. Karena ini sedikit panjang, mungkin nanti baru saya tulis saja ya penjelasan lengkapnya kalau masih perlu.

Oh iya, nanti di akhir diskusi, akan saya posting juga jawaban untuk soal-soal TPA yang tdi diunggah.

Martha: Wah terima kasih kak 🙂 Jadi rekan-rekan tidak perlu khawatir lagi ya, apabila nanti mengalami kesulitan untuk mengerjakn soal TPA yang tadi dibagikan :). Pertanyaan lainnya saya rasa sudah terjawab ya. Kita lanjutkan saja, karena kita sudah sampai dipenghujung sesi tanya jawab kak, hehee Ini dia tiga pertanyaan terakhir:

  1. Apakah peserta yang calon penerima beasiswa LPDP harus sudah diterima di universitas tujuan dulu ataukah boleh mengikuti seleksi penerimaan beasiswa dulu baru mencari universitas tujuan kak? seperti apa gambarannya kak? (Khairani)
  2. Untuk penulisan essay sebagai syarat awal (esai kontribusi dll). Kita diberikan judul dalam bahasa indonesia tapi apakah untuk pelamar luar negeri, wajib menulis dalam bahasa inggris? (Maria)
  3. Bagaimana cara mengerjakan soal Nomor 38 di contoh soal TPA yang dibagikan? (Santy)

Untuk pertanyaan nomor 3 bisa menunggu saat kunci jawaban dibagikan oleh narasumber ya, tetapi jika ingin langsung dijawab saya persilahkan 🙂

Albert: Terima kasih sudah bertanya 

  1. LoA atau Letter of Acceptance sifatnya tidak mutlak untuk syarat pendaftarannya, tetapi dengan adanya ini jika dipikir juga berpengaruh terhadap peluang teman-teman untuk diterima. Kenapa? Karena itu secara tidak langsung menunjukkan keseriusan teman-teman sendiri dalam melanjutkan studi.
  2. Ya ditulis dalam Bahasa Inggris.
  3. Dicari dlu 40% dari 50 dan 50% dari 70, jumlahkan itu dan kemudia dibagi dengan total undangan yakni 120. Hasilnya dikali 100%

Martha: Terima kasih kak Albert untuk jawabannya. Apakah ada tambahan dari kak Kristian?

Kris: Terima kasih,

  1. saya belum ada LoA saat mendaftar namun harus dipertanggungjawabkan saat wawancara kalau saya sendiri kemarin karena saat penyuluhan kita diberikan waktu 1,5 tahun saat selesai Persiapan Keberangkatan atau Pengayaan Bahasa untuk mencari kampus. jadi bisa saja belum lulus kampus bisa daftar kak.
  2. Jelas dalam bahasa Inggris.
  3. 40% dari 50 = 20. 50% dari 70 = 35
    perbandingan jumlah yang hadir : Jumlah Undangan = Perbandingan hadir terhadap 100
    55 : 120 = 46 :100
    Saya rasa cukup kak martha. Saya kembalikan.

Martha: Baik, terima kasih kak Kristian :).
Nah, untuk mengakhiri diskusi kita malam hari ini, saya ingin kakak berdua memberikan pesan atau kata-kata penutup dan bisa juga dorongan semangat agar para peserta diskusi, bisa menjadi seperti kakak berdua suatu hari nanti. Silahkan kak Albert dan kak Kristian?

Albert: Mungkin bukan menjadi seperti salah satu dri kami, karena masing-masing pribadi itu unik 😅. Tetapi bisa mencontoh jalan yang sudah dibukakan terlebih dahulu :).

Albert: Terima kasih Martha :).

Terima kasih juga untuk teman-teman semua yang sudah mau hadir dan bergabung dalam diskusi yang diselanggarakan oleh Kelas Daring IELTS NTT. Semoga informasi yang diberikan tadi bermanfaat ya, mohon maaf juga kalau ada jawaban yang kurang berkenan ataupun pertanyaan yang belum sempat terjawab karena keterbatasan waktu diskusi.

Kesempatan sudah ada, sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempatan itu. Tidak perlu sungkan untuk bertanya dan belajar dari yang sudah pernah melewati proses itu. Suatu saat, teman-teman akan berada dalam posisi yang sama juga. Kristian  dlu juga sering mengikuti seminar-seminar beasiswa dan diskusi beasiswa, masih ingat waktu itu Kris pernah ikut sebagai peserta dalam seminar kepemudaan yang diselenggarakan oleh Assosiasi MITRA di Undana 3 tahun lalu, kalau tidak salah. Tetap semangat!

Kris: Terima kasih Kak Martha… benar yang Kak Albert bilang… saya juga dulu peserta penyuluhan beasiswa LPDP 3 tahun lalu… tapi Puji Tuhan hari ini saya bisa dapatkan juga berkat yang saya impikan… jangan pernah berhenti mencoba dan belajar juga latihan… Berkat semua Sudah Tuhan atur tinggal kita persiapkan diri untuk terima berkat itu… karena tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan… sukses selalu untuk semua🙏. Semangat

Martha: Terima kasih banyak untuk kesediaan berbagi dan semangat membara yang ditularkan kak Albert dan kak Kristian Semoga kakak berdua juga selalu sukses dalam setiap aktivitas yang dilakukan 🙏

Albert: Terima kasih kembali 🤗

Kris: Terima Kasih juga kak dalam memimpin diskusinya🙏

Martha: Terima kasih juga untuk rekan-rekan peserta yang sangat aktif memberikan pertanyaan dan respon baik terhadap diskusi ini. Semoga seluruh harapan dan doa kita bisa terkabul sesuai dengan waktu terbaik yang Tuhan tentukan. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata yang kurang berkenan, atau pertanyaan yang masih mengganjal karena keterbatasan waktu.

Jangan lupa berikan suka untuk halaman fb https://m.facebook.com/IELTSDaringNTT/ Juga ikuti kami di akun instagram https://instagram.com/kelas_daringieltsntt2019?igshid=1el6cgqkm1j4t

Halaman FB dan Akun IG adalah 2 akun resmi dari kelas daring IELTS NTT 2019, sehingga rekan-rekan dapat mengetahui info-info mengenai kegiatan kami melalui aku tersebut. Notulensi untuk diskusi hari ini juga akan kami buat, sehingga bisa dibagikan kepada teman-teman yang belum bergabung di grup ini. Apabila rekan-rekan memiliki pertanyaan lebih lanjut, kak Albert dan kak Kristian juga masih bersedia untuk menjawab melalui chat pribadi. Namun tentu saja, akan dijawab sesuai dengan waktu luang para narasumber ya, sehingga diharapkan rekan-rekan untuk bersabar bila belum direspon 🙂

Sekian untuk malam ini, selamat melanjutkan aktivitas!:)

Albert: Terima kasih sekali lagi Martha 🙂

Notulensi “Bincang-Bincang Tes SBK Beasiswa LPDP Bersama Kelas Daring IELTS NTT” (Bagian I)

Kelas Daring IELTS NTT, sebuah inisiatif belajar IELTS gratis secara daring bagi masyarakat NTT, mengadakan bincang-bincang mengenai tes Seleksi Berbasis Komputer (SBK) beasiswa LPDP pada Sabtu, 12 Oktober 2019. Diskusi yang diselenggarakan dengan menggunakan grup WhatsApp ini menghadirkan dua orang narasumber, yakni Kristian Zhami Octavianus (akrab disapa Kris), penerima beasiswa afirmasi LPDP tahun 2019, dan Albert Christian Soewongsono (akrab disapa Albert), alumni penerima beasiswa LPDP tahun 2016.

Sesi yang dibawakan dan diarahkan oleh Martha Yesidaneska Sooai (akrab disapa Martha) selaku moderator, dihadiri oleh sekitar 230 peserta diskusi. Martha yang juga merupakan Pemenang I Putri Duta Bahasa Nusa Tenggara Timur (NTT) ini membuka diskusi dengan mempersilahkan masing-masing narasumber untuk memperkenalkan diri dan mengajak para peserta untuk mengikuti halaman Facebook Kelas Daring IELTS 2019 – NTT dan akun Instagram @kelas_daringieltsntt2019. Rekapan hasil diskusi yang berlangsung sekiranya dua jam ini terangkum dalam notulensi di bawah ini:

Martha: Selamat sore rekan-rekan pejuang beasiswa LPDP!😊. Terima kasih sudah bergabung dalam grup diskusi ini. Perkenalkan, saya Martha sebagai moderator diskusi kali ini. Sebelum diskusi ini dimulai, saya ingin mengajak rekan-rekan untuk like halaman FB Kelas Daring IELTS NTT 2019 (https://www.facebook.com/IELTSDaringNTT/) dan follow akun instagram kami @kelas_daringieltsntt2019. Dalam diskusi kali ini, para narasumber akan memberikan penjelasan terkait Tes Potensi Akademik, Tes Kepribadian dan Penulisan Essay On The Spot. Bagi rekan-rekan yang ingin memberikan pertanyaan, silahkan mengirimkannya ke nomer ini. Saya akan menyaring pertanyaan yang masuk sebelum saya berikan kepada narasumber, agar tanya jawab berlangsung secara efisien. Pertanyaan rekan-rekan sudah bisa dikirimkan mulai saat ini :). Untuk membuka diskusi, saya akan persilahkan para narasumber untuk memperkenalkan diri.

Albert: Terima kasih Martha untuk mengarahkan diskusi pada sore hari ini. Perkenalkan, saya Albert, alumni penerima beasiswa LPDP tahun 2016 untuk studi magister matematika di ANU. Sekarang sementara melanjutkan studi Doktoral, juga di Australia. Semoga diskusi sore hari ini bisa memberikan manfaat bagi teman-teman yang sementara mempersiapkan diri untuk mengikuti SBK beasiswa LPDP ya.

Kris: Terima Kasih Kak Martha, Perkenalkan nama saya Kristian Octavianus, Bisa disapa Kris atau Tian, saya lulusan dari Fakultas Sains dan Teknik Matematika Universitas Nusa Cendana. Sekarang Puji Tuhan saya sedang mengikuti proses dari beasiswa LPDP, kemaren saya lulus dari beasiswa afirmasi 3T.  Saya harap diskusi ini dapat berguna untuk teman-teman dan kakak-kakak yang sedang  mempersiapkan diri untuk SBK.

Diskusi dilanjutkan dengan penegenalan singkat terkait teknis pelaksanaan tes SBK LPDP.

Martha: Nah supaya jangan berlama-lama lagi, saya persilahkan kak Kristian dan kak Albert untuk menjelaskan terlebih dahulu mengenai Seleksi Berbasis Komputer dari LPDP, karena SBK ini dijadwalkan akan diselenggarakan di Kupang tanggal 17 & 18 Agustus 2019. Mohon pencerahannya kak.

Albert: Okay terima kasih Martha :). Seperti sudah dibilang di awal, SBK ini dibagi menjadi 3 bagian, yakni TPA, tes kepribadian, dan essay on the spot. Pada masa saya waktu itu, TPA dan tes kepribadian belum ada, jadi teknis untuk dua tes itu akan dijelaskan lebih oleh Kristian ya.

Untuk Essay on the spot sendiri, sesuai namanya, teman-teman harus menulis esai (dalam Bahasa Inggris bagi pelamar beasiswa ke univ luar negeri) di teman. Peserta akan diberikan dua topik dan memilih salah satunya. Topiknya biasa tentang isu-isu terkini, bisa tentang pendidikan, kesehatan dll.

Waktu yang diberikan sekiranya 30 menit, dan dalam 30 menit itu, teman-teman harus mencakup: latar belakang masalah, penyebab masalah, sudut pandang teman-teman (setuju atau tidak setuju), dan solusi serta rekomendasi, dalam tulisannya.

Martha: Terima kasih kak Albert untuk penjelasannya. Nah bagi rekan-rekan yang ingin tau seperti apa tipe soal TPA yang akan diberikan, silahkan diunduh yang soal TPA yang kemarin sudah dibagikan oleh kak Albert di grup ini :). Nah kak Albert, terkait LPDP dan TPA ini sudah ada pertanyaan nih kak.

  1. Apakah salah satu syarat dari beasiswa ini adalah punya aktivitas di organisasi-organisasi dan apakah menjadi volunteer juga bisa? (Chandra)
  2. Materi-materi TPA apa saja yg bakal diuji? (Erick)

Albert: saya jawab ya

  1. Sebenarnya keikutsertaan dalam aktivitas sosial bukan syarat yang harus dipunya oleh pelamar, itu bisa dibilang hanya merupakan syarat pendukung saja untuk memperbesar peluang teman-teman diterima. Contoh: kalau hanya dilihat dari akademik, misalkan ada dua orang yang punya prestasi akademik seperti IPK yang sama, tentu jika yang satu mempunyai lebih banyak pengalaman di luar akademik, kemungkinannya lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Oleh karena itu, kalau pengalaman sebegai volunteer ya tidak apa-apa.
  2. Untuk TPA dari LPDP saya kurang tau, silahkan Kristian jawab ya. Tetapi, pada umumnya TPA terdiri dari beberapa seksi, antara lain: tes spasial, logika, numerik, dan penalaran verbal.

Martha: Jadi aktivitas sosial yang kita miliki akan jadi nilai tambah kita di mata pemberi beasiswa ya kak. Nah berarti rekan-rekan jangan lupa juga untuk turut aktif di kegiatan sosial ya!

Albert: Sedikit tambahan, kalau yang di Kupang, teman-teman bisa gabung di Asosiasi MITRA (https://www.facebook.com/CommunityMitra/) atau juga AIYA East Indo, dan beberapa organisasi lainnya (https://www.aiya.org.au/chapters/eastern-indonesia/)

Kris:    Mohon ijin kak saya akan menjawab pertanyaan kedua. Pengalaman saya kemarin waktu tanggal 1 Juli 2019 Seleksi Basis Komputer dari LPDP sendiri itu terdiri dari 3 Tes yaitu Tes Potensi akademik, Tes Kepribadian, dan Essay On The Spot. jadi ketiga tes ini dilakukan dalam satu komputer dan 3 Tes ini berlangsung dalam kurun waktu 3 jam satu jam untuk masing-masing tes. dan untuk Essay On The Spot atau EOTS kemarin saya mengisinya dalam bahasa inggris, topiknya juga tentang masalah Indonesia terkini. Kalau TPA sendiri soalnya bisa teman-teman dan kakak-kakak sekalian lihat pada attachment PDF diatas kurang lebih bentuknya sama ada 3 yaitu Tes Linguistik, Logika dan Aritmatik(Numerik). Dan untuk tes kepribadian isi tesnya mengenai keputusan dalam keadaan tertentu contohnya seperti pertanyaan berikut “Anda seorang karyawan dan Pimpinan ditempat anda bekerja meminta anda melakukan hal yang tidak sesuai dengan pemikiran anda apa yang anda lakukan? ” dan tipe-tipenya juga ada beberapa yaitu:

  1. Tentang keputusan pemilihan tentang masalah tertentu contohnya pemilihan warna atau baju.
  2. Mengenai hubungan persahabatan.
  3. Mengenai hubungan keluarga.
  4. Mengenai thema pekerjaan tertentu.

Martha: Baik terima kasih kak Kristian dan kak Albert, kak pertanyaan selanjutnya nih.

  1. Apakah ada penilian tersendiri bagi calon awardee yang lulus dari PTN/PTS, apakah lebih direkomendasi yang dapat beasiswa dari PTN dibanding PTS? (Lucky Adoe)?
  2. Apakah setiap sesi soal TPA (verbal, Numerik, spasial) punya alokasi waktu masing-masing? atau waktunya diakumulasi secara keseluruhan? (Haniva)

Albert: Menurut saya, tidak ada dikelompokkan seperti itu, yang ada hanya pengelompokkan berdasarkan jenis beasiswanya saja. Contoh: BIT (untuk Indonesia Timur), BUDI (Untuk dosen), Afirmasi, dan juga reguler. Penilaiannya lebih kepada kualitas personal masing-masing, bukan dari institusi tempat teman-teman berasal ya. Dulu banyak teman angkatan yang lolos juga dari PTS.

Kris: Iya benar kak Albert saya juga sependapat tidak ada perbedaan dalam pendaftaran. kemarin beberapa teman saya juga berasal dari PTS. Untuk TPA digabung kak tidak dibagi jadi kita yang mengelola waktunya kak – dalam 1 jam kita diberi kesempatan menjawab setelah itu selesai dan pindah ke tes selanjutnya.

Albert: Terima kasih Kris. Jadi hemat saya, latihan manajemen waktunya sedari sekarang sebelum tesnya. Jika merasa kesulitan di salah satu bagian dari tes, berarti perbanyak latihan di bagian itu. Dan setiap kali latihan, dicatat waktu pengerjaannya.

Martha: Terima kasih kak, saya rasa sudah jelas ya jawaban untuk pertanyaan tersebut. Baik pertanyaan selanjutnya:

  1. Apakah mempunyai banyak prestasi merupakan salah satu syarat untuk lolos LPDP?(Priska Manek)
  2. Apa parameter seseorang pelamar beasiswa lolos tes TPA? Apakah ada passing gradenya? Apabila ada bagaimana cara menghitungnya? Hal ini berkaitan dengan pernyataan di booklet LPDP yg mengatakan “kelulusan ujian SBK ditentukan dari hasil TPA”.
  3. Untuk tes soft competency/tes karakteristik pribadi, apakah jenis soalnya menyerupai seleksi CPNS pada umumnya? Adakah tips dan trik menjawabnya mengingat tidak ada jawaban benar dan salah, namun masing-masing jawaban memiliki bobot yg berbeda.
  4. Apakah ada contoh tulisan esai on the spot writing dimana mengikuti pedoman IELTS writing task part II seperti yg diinfokan di group? Kebetulan saya belum tahu seperti apakah esai yg dimaksud tersebut apakah sama dengan esai ilmiah populer pada umumnya ataukah berbeda.

Pertanyaan dari rekan-rekan silahkan dikirimkan ke saya sebagai moderator ya, jangan lupa disertakan namanya juga :). Oh iya, di awal saya mengatakan tes SBK ini akan dilangsungkan pada tanggal 17–18 Agustus 2019, maksud saya 17–18 Oktober ya 🙂 Diskusi ini diselenggarakan untuk membantu rekan-rekan yang akan mengikuti seleksi ini, namun terbuka juga untuk umum yang ingin menambah informasi terkait seleksi ini 🙂

Albert: Saya jawab ya:

  1. Ya tentu itu menurut saya akan masuk dalam penilaian. Jadi apapun prestasinya (dan relevan), jangan lupa dimasukkan ke dalam CV.
  2. Dijawab ya Kristian . Dulu waktu masa saya, setahu saya, memang ada passing gradenya. Dulu waktu itu, jika tidak lolos, bisa bertanya ke LPDP untuk diberitahukan skornya. Tidak tahu untuk sekarang masih bisa atau tidak.
  3. Dijawab ya Kristian.
  4. Ya, kira-kira mirip seperti topik dalam IELTS writing task II. Contohnya kayak gini (Saya ambil dari IELTS): A growing number of people feel that animals should not be exploited by people and that they should have the same rights as humans, while others argue that humans must employ animals to satisfy their various needs, including uses for food and research.Discuss both views and give your opinion. Yang penting dalam 30 menit waktu pengerjaan itu harus memuat: sudut pandangan pribadi terhadap masalah, penyebab masalah, latar belakang masalah, dan juga solusi yang dapat diberikan. Jadi usahakan jangan kepanjangan tulisnya. Justru lebih tidak baik, jika tidak memuat salah-satu dari bagian di atas. Untuk itu sebelum memulai menulis, sisihkan waktu sekira 5 menit untuk brainstorming ideas dan konsep penulisan terlebih dahulu

Kris: Menurut saya,

  1. Banyak Prestasi bukan merupakan syarat namun ada nilai tambahnya kalau punya banyak prestasi tergantung juga jalur LPDP yang kak pilih apakah jalur prestasi atau bukan.
  2. iya ada 50% menjawab benar kalau saya kemarin dari 100 soal, bila benar 3 dan salah 0 nilai Pass gradenya 150.
  3. karena saya belum pernah tes PNS sebelumnyam jadi saya belum tau pasti apakah sama atau tidak namun dari buku yang saya baca kurang lebih sama, tips dan trik sebenarnya tidak ada pakem tertentu saya menjawab sesuai hati nurani… karena kemarin yang dinilai dan ada pass gradenya cuman TPA namun tes ini akan related dengan tes wawancara nantinya begitu juga untuk EOTS
  4. Kalau kemarin saya lakukan dan apabila dibandingkan dengan tes writing part 2 memang mirip kak.. jadi diberikan masalah dan bagaimana menjawab dari sisi pandang yang berbeda.

untuk pertanyaan nomer 1 bisa dilihat juga dalam booklet berikut ada beberapa jalur LPDP

https://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa-unduhan/

Martha: Baik, saya rasa sudah cukup menjawab ya untuk keempat pertanyaan di atas :). Mari beralih ke pertanyaan selanjutnya.

  1. Apa ada batasan/minimal kata untuk esai? Apa tips menulis esai dan bagaimana teknis penulisan esai? (Listan)
    saya rasa untuk tips menulis esai dan teknisnya sudah terjawab di pertanyaan-pertanyaan sebelumnya ya kak.. Namun silahkan jika narasumber ingin menambahkan lagi.
  2. Bagaimana cara memotivasi diri agar semangat melanjutkan studi?(Aline)

Albert: terima kasih untuk pertanyaan-pertanyaannya:

  1. Tidak ada batasan jumlah kata, seingat saya. Tetapi ya, usahakan mampu mencakup semua bagian esai dalam waktu 30 menit itu. Tiga tahun lalu, saya sempat menulis beberapa artikel tentang seleksi LPDP, termasuk Essay on the spot. Silahkan dibaca-baca, barangkali berguna.
    https://www.aiya.org.au/2016/04/berbagi-pengalaman-mendapatkan-beasiswa-lpdp-bagian-2/

    https://www.aiya.org.au/2016/04/berbagi-pengalaman-mendapatkan-beasiswa-lpdp-bagian-1/
  2. Untuk itu personal ya, jadi masing-masing punya cara untuk memotivasi yang berbeda juga. Mungkin yang bisa ditanya terlebih dahulu ke diri: Kira-kira apa saja yang memberatkan diri untuk tidak melanjutkan studi 🙂

Kris: Terima kasih sudah bertanya

  1. saya kemarin ada batasan minimal 150 tapi kalau maksimal tidak ada namun sebaiknya sekitar 250-300.
  2. banyak melihat hasil dari kakak-kakak yang sudah tamat… kebetulan K Albert salah satu inspirasi saya🙏… dan juga dosen saya dikampus mendukung saya untuk lanjut… banyak bicara dengan orang yang sudah atau sementara ingin lanjut…

Mengenal Sistem Orientasi Kampus di Australia Bagi Mahasiswa Baru

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang masa orientasi bagi mahasiswa baru di kampus-kampus di Australia. Pada tulisan ini saya akan menceritakan berdasarkan pengalaman ketika pertama kali mengalami masa tersebut di Australian National University (ANU). Sebelum itu, mungkin yang familiar di pemikiran teman-teman di Indonesia, ospek atau mabim bagi mahasiswa baru adalah kegiatan-kegiatan berupa pengenalan dengan senior, pengalaman dibentak oleh senior, ataupun kegiatan pengenalan angkatan lainnya yang membutuhkan daya tahan fisik, dan kebanyakkan melelahkan. Nah, di kampus-kampus di luar negeri, hal-hal seperti tersebut tidak akan dijumpai, meskipun ada juga kegiatan-kegiatan fisik tetapi yang bersifat menyenangkan dan bebas dipilih oleh mahasiswa. Jika teman-teman penasaran, langsung saja ya kita membahas apa-apa saja sih yang dilakukan selama masa orientasi, atau lebih dikenal dengan sebutan Orientation Week (O-Week), di Australia.

2

Suasana Saat Welcoming Speech di ANU

  1. Sesi Induksi Universitas dan Fakultas

Nah, salah satu agenda penting selama  O-Week yang wajib untuk tidak dilewatkan adalah sesi induksi (Induction session). Sesi ini biasanya terdiri atas dua, yakni yang diberikan oleh universitas dan juga yang diberikan oleh fakultas. Induksi dari universitas berupa pengenalan sistem perkuliahan di kampus tersebut, dan dibagi dalam beberapa workshop yang dapat dipilih oleh mahasiswa untuk dihadiri. Hal-hal yang dipaparkan seperti: “Managing Your Time”, “Essay Writing Strategies”, “Managing The Reading” dan kemampuan-kemampuan lainnya yang dibutuhkan oleh mahasiswa tahun pertama selama menempuh studi di universitas. Sesi induksi lainnya adalah yang diberikan oleh fakultas atau college masing-masing. Nah sesi ini tidak kalah pentingnya, karena ini adalah kesempatan perdana para mahasiswa tahun pertama untuk bertemu langsung dengan staf akademik di fakultasnya masing-masing, termasuk bertemu dengan convenor. Convenor ini terbagi lagi jadi dua, yakni course convener, yakni dosen yang mengasuh mata kuliah, dan program convenor. Kalau di Indonesia, program convenor seperti kaprodi lah ya. Nah disitu teman-teman bisa berdiskusi langsung terkait rencana studi kedepan dan hal-hal akademik lainnya. Informatif sekali kan ya ?

3

Salah Satu Sesi Workshop Selama O-Week di ANU

  1. Kesempatan Bergabung dengan Organisasi Kampus

Selama minggu orientasi, banyak stall yang akan didirikan. Salah satunya adalah stall-stall dari organisasi mahasiswa di jurusan masing-masing, seperti Law Students’ society atau Math Students’ society. Tidak hanya academic society saja yang punya stall, tetapi society yang bersifat fun juga ada, seperti society untuk penggemar permainan League of Legends (LoL) atau society penggemar budaya Korea juga ada. Selain itu ada juga stall yang didirikan oleh perhimpunan mahasiswa negara tertentu, seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA), perhimpunan pelajar mahasiswa Malaysia dll. Di stall-stall tersebut, biasanya disediakan kuliner lokal masing-masing negara, lumayan kan bisa dicicipi. Jadi sepanjang deretan stall-stall, teman-teman bebas untuk berjalan mengunjungi stall manapun yang disukai. Satu lagi yang penting dan biasanya tidak disia-siakan oleh mahasiswa tahun pertama, teman-teman biasanya diberikan merchandise kecil-kecilan, seperti tas, botol air, gelas dll. Sangat berguna kan?

  1. Tur Pengenalan Kampus

Aktivitas tidak kalah penting lainnya adalah tur mengelilingi beberapa fasilitas penting di kampus. Tur ini biasanya dibawakan oleh mahasiswa tingkat lanjut dan tersedia selama beberapa kali dalam satu hari. Mahasiswa baru akan diajak berkeliling dengan berjalan kaki untuk diperkenalkan dengan fasilitas-fasilitas penting di kampus, seperti gym dan perpustakaan. Oh iya, perpustakaan juga mempunyai tur untuk memperkenalkan mahasiswa dengan fasilitas-fasilitas dalam perpustakaan dan tata cara peminjaman buku, perpanjangan masa peminjaman, pengunaan fasilitas didalamnya seperti mesin kopi, printer dan komputer.

  1. Kegiatan-Kegiatan mingle Bersama Mahasiswa Tahun Pertama

Kampus-kampus di Australia juga mempunyai aktivitas untuk saling kenal dan mengakrabkan diri, tetapi aktivitas itu dikemas dalam bentuk yang tidak akan menguras fisik teman-teman, atau bahkan sampai menyebabkan teman-teman sakit. Aktivitasnya biasanya dikemas menjadi kegiatan seperti nonton bareng di theatre kampus, meet and greet dinner, student welcome evening dll. Jadi, selain sesi berkenalannya dapat, teman-teman juga mendapatkan tambahan berupa hiburan.

1

Foto Bersama Vice-Chancellor ANU, Prof. Brian Schmidt, di sela kegiatan Postgraduate Meet & Greet

Nah sekian beberapa aktivitas yang biasa dilakukan selama O-Week di kampus-kampus di Australia. Gimana menurut teman-teman? Apakah mempunyai impian agar kegiatan-kegiatan seperti itu juga dapat diterapkan di kampus-kampus di Indonesia?.

Sampai jumpa di artikel berikutnya !

Oleh: Albert Christian Soewongsono S.Si., M.Math.Sci. (Adv)

Forum Diskusi Online Mahasiswa dan Dosen di Australia – Albert Christian Soewongsono S.Si., M.Math.Sci. (Adv)

Dalam artikel sebelumnya saya sempat menyinggung tentang sebuah forum online yang dipakai mahasiswa dan dosen di Australia sebagai media untuk berdiskusi, pengumpulan tugas, penyampaian materi, hingga menonton rekaman video perkuliahan. Kalian bisa lihat artikel sebelumnya lewat link di bawah ini;

(https://assosiasimitra.wordpress.com/2019/06/12/berbagi-pengalaman-sebagai-tutor-di-universitas-di-australia/

Artikel ini dibuat untuk teman-teman yang sedang mempersiapkan kuliah di luar negeri untuk pertama kalinya, terutama Australia, sehingga ketika perkuliahan dimulai, teman-teman sudah mengetahui beberapa hal terkait sistem pembelajaran disana. Artikel ini juga bisa sebagai pembelajaran bagi sistem pendidikan tinggi di Indonesia agar kedepannya sistem seperti ini dapat diterapkan.

Tampilan Awal Wattle

Tampila awal wattle

Seperti dikatakan di atas, universitas-universitas di Australia mempunyai forum diskusi online masing-masing. Jika di ANU namanya Wattle, di universitas Monash juga mempunyai nama tersendiri, yakni Moodle. Saya akan mengambil contoh forum diskusi yang digunakan ANU dalam artikel ini. Untuk memulai artikel ini, saya akan menjelaskan beberapa fungsi yang biasanya digunakan mahasiswa dan dosen melalui forum tersebut.

  • Terhubung ke Fasilitas Universitas Lainnya

Selain sebagai media diskusi mata kuliah, menu-menu di Wattle juga terhubung ke fasilitas lainnya di ANU seperti, perpustakaan digital, akses ke fasilitas kesehatan dan inklusi, email universitas, hingga laman untuk mendaftar mata kuliah dan pembayaran. Jadi, bagi mahasiswa, hal ini dapat menghemat waktu mencari karena cukup mengakses ke Wattle saja untuk melihat menu lainnya.

  • Sebagai Media Penyampaian Materi Kuliah

Setiap dosen mata kuliah di ANU wajib menyiapkan materi perkuliahannya untuk dimuat di halaman mata kuliahnya di Wattle sebelum perkuliahan dimulai. Informasi seperti struktur mata kuliah, bacaan-bacaan pendukung, tata cara pengumpulan tugas, hingga bobot penilaian tugas dan ujian wajib diunggah dari jauh hari. Jika di Indonesia pertemuan pertama dengan mahasiswa di kelas masih dipakai untuk kontrak kuliah, maka di Australia pertemuan pertama sudah langsung untuk membahas materi kuliah. Dosen disana hanya akan mengingatkan masing-masing mahasiswa untuk mengecek informasi yang sudah diunggah tersebut. Sepanjang perkuliahan berjalan, setiap minggunya dosen akan memperbaharui halaman forum dengan materi-materi yang sudah disampaikan di kelas (biasanya berupa powerpoint atau hasil scan materi yang ditulis oleh dosen). Nah, hal ini tentu sangat berguna bagi mahasiswa yang melewatkan sesi perkuliahan dan juga bagi mereka yang kedepannya akan mengambil mata kuliah itu di semester berikutnya, kenapa demkian? Dalam kehidupan kampus di Indonesia, kebanyakkan dari kita mungkin pernah mengalami yang namanya, meminta materi perkuliahan ke senior-senior yang pernah mengambil mata kuliah yang akan kita ambil. Beruntung jika mendapatkan materi dari senior yang rajin mencatat ketika perkuliahan, jika tidak maka kita tentu tidak dapat memperoleh materi secara utuh bukan?

Di ANU, mahasiswa masih dapat mengakses halaman diskusi mata kuliah yang diambil pada satu semester sebelumnya, sehingga jika materi mata kuliah yang diambil sekarang masih berhubungan dengan mata kuliah semester sebelumnya, mahasiswa tidak perlu pusing-pusing meminta materi ke senior lagi.

Wattle materi

Materi Perkuliahan yang diunggah oleh dosen ke Wattle

  • Dapat Mengakses Video Perkuliahan

Salah satu fungsi dari Wattle adalah terhubung langsung ke Echo360. Echo360 adalah suatu sistem yang diimplementasikan dalam ruangan kelas dan digunakan oleh dosen untuk merekam materi perkuliahan di kelas, baik berupa rekaman suara, layar presentasi, hingga rekaman tulisan di papan kelas. Rekaman ini selanjutnya dapat diakses mahasiswa untuk ditonton sesuai mata kuliah masing-masing. Di Australia, kehadiran mahasiswa di kelas tidak menjadi persoalan, sehingga bagi mereka yang tidak hadir di kelas, dapat menonton rekaman tersebut. Teman-teman jangan berpikir bahwa dengan kehadiran fasilitas ini, mahasiswanya menjadi malas untuk datang ke kelas mengikuti perkuliahan. Mengikuti perkuliahan di kelas secara langsung mempunyai manfaat, antara lain,mahasiswa dapat mempunyai kesempatan bertanya ke dosen pada saat itu juga tentang materi sebelumnya dan materi yang sementara dibahas.

Sistem pendidikan tinggi di Australia memungkinkan mahasiswa dari jurusan yang berbeda untuk mengambil mata kuliah dari jurusan yang lain. Jadi, jangan heran ketika berada di dalam kelas terdapat mahasiswa dari beberapa jurusan. Sistem inilah yang menyebabkan biasanya terjadi ‘tabrakan’ jadwal mata kuliah, sehingga mereka yang mengalami hal ini terpaksa harus menonton rekaman perkuliahan. Rekaman kuliah ini sangat bermanfaat terutama saat musim ujian telah dimulai, karena dapat digunakan untuk review materi yang dipelajari sejak awal perkuliahan. Kita disini juga dapat menerapkan ini tanpa harus mengimplementasikan sistem untuk perekaman di masing-masing kelas, yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Caranya adalah cukup dengan menggunakan kamera ponsel sebagai alternatif, untuk selanjutnya dapat diunggah ke platform-platform seperti Youtube. Di ANU, tidak semua kelas sudah terpasang sistem ini, sehingga biasanya mahasiswa berinisiatif sendiri untuk merekam materi perkuliahan untuk kemudian diberikan ke dosen agar dapat diunggah ke halaman Wattle, dan diakses oleh mahasiswa lain.

Echo Wattle

Arsip Rekaman Perkuliahan

  • Sebagai Tempat Diskusi 24/7

Forum diskusi di Wattle dibagi menjadi dua jenis; Pertama namanya News Forum, yakni sebuah forum satu arah yang hanya bisa digunakan oleh dosen dan para tutor untuk memberikan informasi seputar mata kuliah seperti, pemberitahuan tugas atau solusi tugas telah diunggah, pembatalan sesi perkuliahan, dan kelas pengganti, serta hal lainnya yang berhubungan dengan perkuliahan tersebut. Forum lainnya adalah Discussion Board yang merupakan forum diskusi antar mahasiswa dan dosen serta tutor seputar perkuliahan. Dalam forum ini, mahasiswa bebas menanyakan apa saja terkait mata kuliah seperti, pembahasan materi yang kurang dipahami, tugas mata kuliah, hingga soal dalam ujian-ujian tahun sebelumnya. Meskipun begitu, sebagai dosen atau tutor biasanya tidak akan langsung menjawab pertanyaan dari mahasiswa apabila terkait materi kuliah. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat saling berdiskusi terlebih dahulu, ketika dirasa sudah cukup barulah dosen atau tutor akan ikut nimbrung juga. Di Indonesia, mungkin sudah tidak asing lagi dengan hal seperti mahasiswa mengirimkan pesan singkat ke dosennya diluar jam kantor untuk bertanya tentang materi perkuliahan ataupun hal-hal seputar perkuliahan lainnya. Hal itu mungkin dirasa agak mengganggu oleh kebanyakan pengajar, dan tidak jarang mahasiswa tidak mendapatkan respon balik. Dulu sewaktu saya menempuh studi s1, keinginan untuk bertanya ke dosen melalui pesan singkat juga saya rasakan, terlebih ketika sedang review materi perkuliahan yang baru saja diperoleh di kelas. Menurut saya, mahasiswa tidak bisa disalahkan juga, meskipun sering dibilang kalau sudah menjadi mahasiswa maka harus mandiri dalam mencari jawaban dari pertanyaan. Akan tetapi, mahasiswa perlu juga untuk difasilitasi dalam proses mencari jawaban tersebut. Ketersediaan forum diskusi seperti ini tentu memudahkan mahasiswa dalam bertanya dan tersalurkan melalui wadah yang tepat juga.

Diskusi Wattle

Tampilan Forum Diskusi di Wattle

Demikian beberapa fitur bermanfaat dari Wattle yang biasa digunakan oleh mahasiswa, dosen dan tutor. Dari cerita teman-teman yang berkuliah di Indonesia, sebenarnya fasilitas seperti ini sudah tersedia. Akan tetapi, tidak diterapkan dalam proses perkuliahannya baik karena pengajarnya tidak paham pemakaiannya hingga kurang inisiatif dari pengajarnya. Mungkin karena kita sudah terbiasa dengan sistem pembelajaran yang konvensional ya, dimana proses pertukaran ilmu hanya di dalam kelas saja. Harapan saya, berkaca dari manfaat-manfaat adanya forum ini sebagaimana dipaparkan di atas, dosen dapat mulai mengimplementasikan hal ini sejak dini, dan pada pertengahan kuliah dan di akhir bisa meminta feedback dari mahasiswa untuk melihat respon dari mahasiswa terkait forum ini, agar kedepannya lebih baik lagi. Di artikel lainnya, saya akan membahas juga tentang sistem pemberian feedback dari universitas di Australia kepada staf universitas dan juga mahasiswa. Barangkali bisa ada hal positif yang bisa kita ambil dan terapkan. Nah bila di universitas tempat teman-teman mengajar tidak terdapat fasilitas forum ini, bisa memakai Google Classroom (https://www.youtube.com/watch?v=uVJHM5V7l2M&feature=youtu.be). Selain gratis, fasilitas yang disediakan juga hamper sama seperti forum diskusinya ANU. Di situ dapat mengunggah materi, pengumpulan tugas, dan terdapat forum diskusi yang bisa diakses oleh mahasiswa. Saya rasa, sudah saatnya kita untuk keluar dari zona nyaman demi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia. Sekian dan sampai bertemu di pembahasan berikutnya ya!

Berbagi Pengalaman Sebagai Tutor di Universitas di Australia

Apakah pernah terlintas di pikiran teman-teman untuk mendapatkan kesempatan mengajar mahasiswa di kampus luar negeri?

Ketika teman-teman berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri, teman-teman juga dapat memperoleh pengalaman lainnya yaitu menjadi tutor ketika sedang berkuliah. Mungkin teman-teman penasaran bagaimana sih cara untuk mendaftar, apa saja syarat-syaratnya, hingga kesan-kesan selama membimbing mahasiswa lokal maupun Internasional, terlebih ketika Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris, yang mana bukan merupakan bahasa pertama saya. Dalam artikel ini, saya akan coba menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas, dan mengambil beberapa poin yang saya pikir baik jika diterapkan di universitas di Indonesia.

Pertama-tama, ada baiknya saya menjelaskan terlebih dahulu secara singkat tentang sistem pendidikan di sana. Jadi, di universitas-universitas luar negeri, perkuliahan dibagi menjadi dua, yakni Lecture dan Tutorial. Lecture diberikan langsung oleh dosen mata kuliah kepada seluruh mahasiswa yang mendaftar dalam mata kuliah tersebut. Lecture hanya berupa penyampaian materi dan jika ada pembahasan soal, biasanya hanya sedikit saja. Ini selain dikarenakan bukan porsi dari lecture, tetapi juga karena durasi lecture adalah 1 hingga 2 jam saja, pada umumnya hanya 1 jam, terlebih jika teman-teman mengambil Matematika dan jurusan-jurusan sains lainnya. Kalau di Indonesia, lecture seperti kelas-kelas perkuliahan yang teman-teman ikuti. Nah, tutorial dimaksudkan sebagai wadah untuk teman-teman berdiskusi mengenai materi perkuliahan yang sudah disampaikan oleh dosen. Pada setiap tutorial, biasanya dosen sudah menyiapkan worksheet untuk dikerjakan dan didiskusikan. Worksheet tersebut kebanyakan tidak masuk dalam penilaian, meskipun ada juga yang memasukkannya sebagai penilaian. Semuanya tergantung dari struktur mata kuliah masing-masing. Terkait struktur mata kuliah hingga sistem enrolment disana, akan saya jelaskan pada lain kesempatan ya. Jika lecture diberikan langsung oleh dosen, maka tutorial dibimbing oleh tutor. Satu tutor mempunyai tanggung jawab untuk memegang 1 hingga 2 kelas tutorial, tergantung jumlah mahasiswa dalam mata kuliah tersebut dan juga jumlah tutor yang tersedia.

Pertama kali saya menjadi tutor di Mathematical Sciences Institute (MSI) di Australian National University (ANU) adalah ketika saya berada di tahun kedua studi, tepatnya pada awal tahun 2018 yang lalu. Saya mengetahui informasi bahwa mahasiswa magister dapat mendaftar sebagai tutor dari teman saya yang juga sesama mahasiswa magister, namun mahasiswa lokal. Sempat kaget juga ketika diberitahukan bahwa mahasiswa magister dapat juga melamar, karena kebanyakan program studi di sana mensyaratkan mahasiswa Ph.D sebagai salah satu syarat menjadi tutor, terlebih jika teman-teman mengambil ilmu-ilmu sosial sebagai bidang studi. Kalau teman-teman mengambil studi di bidang Matematika dan ilmu sains lainnya, biasanya tutor adalah mahasiswa sarjana tahun terakhir, mahasiswa honours, mahasiswa magister, dan juga mahasiswa Ph.D. Proses pendaftaran dilakukan secara online selama 1 hingga 2 bulan sebelum semester baru dimulai. Dokumen yang disiapkan juga simpel saja, antara lain: Curriculum Vitae, transkrip akademik terakhir, dan bukti teman-teman pernah mempunyai pengalaman mengajar sebelumnya, jika ada. Apabila teman-teman menjadi tutor di ANU, terdapat Student Experience of Learning & Teaching (SELT), yakni semacam survei yang diberikan ke mahasiswa diakhir semester untuk memberikan penilaian kepada dosen dan tutor. Hasil survei ini dapat digunakan sebagai dokumen pendukung ketika melamar kembali sebagai tutor. Oh iya, pemberian feedback sangat penting di sistem pendidikan di sana dan hasilnya dihargai oleh pihak universitas untuk perbaikan kualitas. Saya berencana membuat artikel lainnya untuk berbagi tentang sistem pemberian feedback di sana, baik dari pihak universitas, maupun feedback berupa hasil tugas dan ujian yang diberikan oleh tutor dan dosen kepada mahasiswa. Di Australia, mahasiswa mempunyai hak untuk mempertanyakan penilaian yang mereka terima. Praktik ini masih jarang dijumpai di Indonesia, berdasarkan cerita dan pengalaman yang saya dengar dari teman-teman saya. Alasan-alasan mengapa praktik tersebut menurut saya sangat penting diterapkan, baik untuk pengajar maupun mahasiswa akan saya bagikan di lain kesempatan.

Kembali ke mekanisme pendaftaran sebagai tutor. Kalau teman-teman baru pertama kali mendaftar sebagai tutor, tetapi ketika di Indonesia, sempat menjadi asisten dosen maka salah satu cara yang dapat teman-teman lakukan adalah dengan meminta surat rekomendasi dari dosen yang menjelaskan peran teman-teman sebagai asisten dosen sebelumnya. Selain dokumen-dokumen diatas, ada juga isian singkat yang perlu diisikan, antara lain: data diri, mata kuliah tertentu yang ingin teman-teman daftar sebagai tutor, dan ketersediaan diri sebagai tutor hingga semester berakhir. Apabila terpilih pertama kali sebagai tutor, teman-teman wajib mengikuti pelatihan sebagai tutor yang dilakukan sepanjang semester berlangsung. Selain pengenalan tentang peran sebagai tutor yang diberikan di awal, modul online akan diberikan secara reguler tiap minggu untuk direfleksikan. Contoh modul-modul jika menjadi tutor Matematika, seperti “Theories about Teaching Mathematics”, “Assessing Students in Class” dll.

Sebagai salah satu syarat untuk bekerja, termasuk sebagai tutor, di Australia, teman-teman harus mengurus terlebih dahulu Tax File Number (TFN) agar dapat memperoleh bayaran sesuai jam kerja. TFN ini berfungsi seperti Nomor Pengguna Wajib Pajak (NPWP) jika di Indonesia. Pengurusan TFN tidaklah ribet, karena dapat dilakukan secara online dan dokumen fisiknya dikirimkan via pos ke alamat rumah teman-teman. Sistem pembayaran di ANU dilakukan tiap dua minggu, dan bayaran sebagai tutor cukup besar. Sebagai gambaran dan motivasi tambahan untuk teman-teman yang mau mendaftar dan mempunyai keinginan untuk berbagi ilmunya, 1 jam tutorial ditambah dengan 2 jam associated working di MSI ANU dibayar sekitar $140.98 per minggunya. Itu hanya untuk 1 kelas tutorial pada 1 mata kuliah saja, biasanya tutor mempunyai tanggung jawab lebih dari satu kelas tutorial jika kelasnya besar, dan juga berkesempatan untuk memberikan tutor mata kuliah yang lain. Selain itu, ada bayaran ekstra diluar rate di atas yang dihitung berdasarkan jam kerja, jika teman-teman memeriksa ujian mahasiswa. Di ANU, klaim jam kerja dilakukan secara online melalui portal HORUS untuk selanjutnya ditinjau dan disetujui oleh Dosen mata kuliah sebelum pembayaran (dilakukan tiap 2 minggu). Berikut, dibawah ini tampilannya;

HORUS

HORUS: Menu tampilan HORUS ANU

Oh iya, yang dimaksudkan dengan associated working adalah waktu untuk mempersiapkan materi, mempersiapkan kuis mingguan (jika ada), memeriksa tugas (jika ada), dan memasukkan nilai mahasiswa ke sistem tiap minggunya. Sebelum terlupakan, teman-teman dari beasiswa LPDP tidak perlu takut dilarang bekerja sebagai tutor di kampus, sebab pekerjaan yang mendukung perkuliahan teman-teman diperbolehkan oleh LPDP.

Semester pertama menjadi tutor, saya berkesempatan menjadi tutor MATH 1013 “Mathematics and Applications I” untuk mahasiswa tahun pertama di MSI ANU. Sebelum tutoring dimulai, ada diskusi awal dengan dosen mata kuliah terlebih dahulu bersama para tutor untuk menjelaskan terkait struktur mata kuliah dan tugas untuk para tutor, serta penyampaian tutorial di kelas. Pertemuan bersama dosen mata kuliah dilaksanakan secara reguler sepanjang semester untuk membahas tentang progres kelas tutorial masing-masing tutor, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi tutor dan juga mahasiswa. Meskipun saya sudah pernah menjadi asisten dosen sebelumnya sewaktu berkuliah di Universitas Nusa Cendana (Undana), tetapi saya juga diselimuti perasaan gugup ketika pertama kali membawakan tutorial untuk mahasiswa yang pada waktu itu sekitar 80% merupakan mahasiswa lokal. Selain karena akan membawakan materi tutorial dalam Bahasa Inggris, tetapi juga karena perbedaan budaya, terlebih jika kelasnya berisikan lebih banyak mahasiswa Internasional. Perlu diingat bahwa respek terhadap budaya masing-masing mahasiswa sangat perlu dijaga oleh seorang tutor, sehingga jangan sampai dalam tutorial menyinggung budaya tertentu.

Teman-teman mungkin bertanya apakah peran sebagai tutor mirip dengan peran sebagai dosen, yakni dalam penyampaian materi. Jawabannya, tidak sepenuhnya sama. Perbedaan mendasarnya, tutor hanya menyampaikan materi di awal seputar topik tutorial pada minggu tersebut secara singkat saja, sekitar 10-15 menit. Setelah itu, mahasiswa diberikan kebebasan untuk berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk menyelesaikan soal-soal dalam worksheet yang diberikan. Tugas tutor adalah mengobservasi dan berkeliling ke setiap kelompok diskusi, jika ada pertanyaan dari mahasiswa. Dari pengalaman, tutor juga harus berinisiatif untuk menanyakan langsung ke mahasiswa apabila ada pertanyaan, sebab tidak semua mahasiswa berinisiatif untuk bertanya, terutama jika bekerja dalam kelompok. Di akhir tutorial, tutor akan menjelaskan solusi dari worksheet yang diberikan, jika masih cukup waktu. Kenapa saya mengatakan ‘jika cukup waktu’? Hal itu karena tutor tidak wajib memberikan semua solusi dari worksheet. Selain disebabkan oleh keterbatasan waktu (1 jam per tutorial), mahasiswa diharapkan semaksimal mungkin dapat menyelesaikan worksheet yang diberikan secara mandiri. Tutor juga diharapkan untuk mengikuti perkembangan materi yang disampaikan oleh dosen setiap minggunya, dan rajin mengecek forum diskusi online mahasiswa di ANU, yakni Wattle, jika ada pertanyaan yang belum terjawab pada forum diskusi tersebut. Pembahasan tentang forum tersebut akan saya bahas di lain kesempatan.

Wattle.jpg

Wattle: Menu tampilan Wattle untuk Modul Online Tutor

Saya berharap sistem lecture dan tutorial, serta melibatkan mahasiswa sebagai tutor (Pada penerapannya, tutor dan asisten dosen itu berbeda) dapat diterapkan dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Hal ini akan membantu mengurangi beban dosen di Indonesia yang harus mengajar, memeriksa pekerjaan mahasiswa, dan juga mengerjakan kewajiban melakukan penelitian, yang secara tidak langsung berdampak kepada mahasiswa. Dari pengalaman sewaktu kuliah s1 maupun dari cerita yang didengar, hasil tugas mahasiswa jarang dikembalikan atau bahkan tidak pernah dikembalikan, padahal itu merupakan hak mahasiswa untuk mendapatkan feedback. Ataupun jika mendapatkan feedback, tidak dilakukan tepat waktu. Melibatkan peran mahasiswa sebagai tutor, menurut saya, dapat membantu dalam menghilangkan permasalahan tersebut. Hal tersebut juga akan memberikan dampak positif bagi mahasiswa yang berpartisipasi sebagai tutor. Selain untuk curriculum vitae bagi ybs, jika dikemudian hari tutor tersebut ingin kembali sebagai dosen, tentu sudah punya punya pengalaman mengajar sebelumnya sehingga tidak terkesan ‘kaku’ ketika menyampaikan materi ke mahasiswa. Terkait penerapan casual work sebagai tutor di Indonesia, jika terkendala alokasi dana (meskipun harapannya untuk dapat diatur), maka berupa ‘pengakuan’ seperti sertifikat, sebagai contoh, terhadap tutor saya rasa cukup, karena itu akan berguna kedepannya baik untuk melamar beasiswa maupun pekerjaan.

Barangkali ada yang meragukan apabila sistem ini diterapkan di Indonesia, karena terkendala waktu perkuliahan yang tersedia setiap minggunya. Namun, rata-rata waktu perkuliahan di Indonesia sekitar 2 jam, jadi bisa saja dibagi 1 jam pertama untuk penyampaian materi dari dosen saja dan 1 jam berikutnya untuk tutorial. Berkaca sewaktu berkuliah di ANU, 1 jam penyampaian materi cukup untuk mencakup keseluruhan materi dalam satu semester. Sebagai informasi, 1 mata kuliah di ANU setara 6 sks di Indonesia. Nah, agar implementasi bisa lancar, tentu sebagai pengajar juga harus disiplin baik dari ketepatan waktu mengajar tiap minggunya, serta perkuliahan yang benar-benar dialokasikan untuk penyampaian materi saja ya!

Sampai jumpa di artikel berikutnya !

Oleh: Albert Christian Soewongsono S.Si., M.Math.Sci. (Adv)

Pengalaman Mendaftar Program PhD di Universitas Luar Negeri (Mencari Supervisor Hingga Melamar Beasiswa)

Foto

Beberapa hari lalu, tepatnya pada 31 Mei 2019, saya mendapatkan sebuah surel dari Graduate Research Office yang menyatakan bahwa saya diterima untuk program Doktoral (Matematika) di Universitas Tasmania (UTAS). Tentu sebuah kabar yang membahagiakan, dan terlebih lagi, saya dinyatakan juga berhak atas Tasmania Graduate Research Scholarship yang membiayai semua biaya perkuliahan saya selama menempuh studi Doktoral di UTAS dan juga biaya hidup sehari-hari disana hingga selesai studi. Kabar-kabar bahagia tersebut sekaligus mengakhiri penantian saya selama kurang lebih dua bulan lamanya sejak pertama kali menjalin komunikasi dengan pihak universitas. Dalam periode penantian di Kupang setelah diwisuda dari Australian National University (ANU) pada Desember tahun kemarin, saya menghabiskan waktu untuk mengajar di Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana. Selain itu, keseharian saya juga diisi dengan mengadakan diskusi-diskusi daring seputar LPDP, salah satunya melalui forum diskusi Berburu Beasiswa Ala FAN (BBAF) Rote beberapa waktu yang lalu.

Apabila yang dipersiapkan berjalan sesuai yang direncanakan, maka tersisa kurang lebih 1 sampai 2 bulan lagi sebelum saya memulai program Doktoral. Oleh karena itu, sembari menunggu momen itu tiba dan juga memenuhi permintaan beberapa teman, saya ingin berbagi pengalaman saya ketika melamar PhD, yaitu mulai dari mencari supervisor, menulis proposal riset, hingga proses melamar beasiswa.

Mencari Supervisor

Saya akan berbicara sedikit tentang studi magister saya beberapa waktu lalu sebagai pengantar. Jadi, di tahun kedua saya di ANU, program magister saya, Masters of Mathematical Sciences (Advanced), mewajibkan untuk menulis tesis yang berbobot sekitar 25% dari total sks. Ketika itu saya dibimbing oleh Prof. Conrad J. Burden untuk topik riset dengan judul “ The Most Recent Common Ancestor of a Randomly Chosen Sample in a Galton-Watson Process “ (Paper dapat dibaca di: https://arxiv.org/abs/1904.10664). Nah, apabila teman-teman juga melakukan riset ketika studi magister, maka salah satu opsi mencari supervisor untuk PhD adalah dengan menanyakan kesediaan dari supervisor ketika S2 untuk kembali menjadi supervisor PhD teman-teman. Namun, bagi teman-teman yang tidak diwajibkan atau tidak mengambil riset sewaktu S2, maka sepengetahuan saya, untuk melamar program Doktoral di Universitas di luar negeri diperlukan pengalaman riset dengan bobot sekurang-kurangnya 25% dari total sks pada studi sebelumnya. Hal tersebut dapat disiasati dengan melakukan riset-riset setelah studi secara mandiri, dan hasil riset tersebut dapat teman-teman tambahkan dalam Curriculum Vitae masing-masing ketika mendaftar program PhD. Selain pengalaman melakukan riset, salah satu aspek yang juga dinilai ketika mendaftar lowongan PhD dan beasiswanya adalah hasil belajar ketika menempuh studi magister. Di Australia, kebanyakan universitas mewajibkan calon pendaftar untuk memiliki Upper Second Class Honours  atau First Class Honours (https://en.wikipedia.org/wiki/Honours_degree).  Oleh karena itu, bagi teman-teman yang sementara studi S2, berusahalah semaksimal mungkin terlebih jika mempunyai keinginan untuk studi lanjut.

Jika pada poin sebelumnya dikatakan bahwa supervisor S2 bisa dijadikan opsi tercepat apabila ingin melanjutkan studi S3, hal ini tidak menjadi opsi saya. Sebab, supervisor S2 saya akan segera pensiun sehingga hanya akan hadir sebagai visiting fellow di universitas. Nah, untuk itu kita akan membahas poin berikutnya, yakni ”koneksi”. Waktu itu sebelum saya balik ke Indonesia, supervisor saya sempat menanyakan apabila saya mempunyai keinginan untuk lanjut studi lagi. Sepulang saya ke Indonesia, saya mengirim surel kepada supervisor saya untuk bertanya apabila beliau mempunyai rekomendasi calon supervisor PhD yang dapat saya hubungi. Dari sekian banyak daftar nama yang diberikan, saya mengontak rekan beliau sewaktu mengikuti konferensi Phylomania di UTAS (http://www.maths.utas.edu.au/phylomania/phylomania2018.htm), yang pada akhirnya menjadi supervisor untuk studi Doktoral.

Sebelum saya lanjut ke pengalaman selama menjalin komunikasi dengan calon supervisor S3 waktu itu, saya ingin menekankan beberapa poin penting. Yang pertama, usahakan untuk terus memperluas koneksi teman-teman, karena kita tidak tahu dari mana kesempatan itu akan datang, bisa saja dari teman sewaktu studi maupun dari rekan kerja hingga dari supervisor. Selanjutnya, teman-teman harus berani mengambil inisiatif terlebih dahulu. Jika pada waktu itu saya tidak menghubungi supervisor saya lagi, maka saya tentu tidak akan memperoleh daftar kontak untuk dihubungi, meskipun sebelum berpulang ke Indonesia supervisor saya sudah menanyakan mengenai hal tersebut.  Patut diingat oleh teman-teman agar jangan takut untuk bertanya, karena staf akademik disana sangat menyambut baik pertanyaan teman-teman, jika mereka tidak bisa, akan diusahakan untuk mengalihkan pertanyaan teman-teman ke orang lain yang dapat dihubungi.

Saat pertama kali menjalin komunikasi dengan calon supervisor S3 saya, beliau sangat menyambut baik, bahkan memberitahukan saya posisi PhD yang sedang dibuka, serta menginformasikan saya mengenai beasiswa yang sedang dibuka. Sebelum itu, saya juga diminta untuk mengirimkan CV, transkrip akademik, dan juga tesis saya. Beliau tertarik dan menanyakan apabila beliau beserta tim bisa mewawancarai saya lebih lanjut dan meminta saya untuk mengatur jadwal yang sesuai dengan waktu saya. Saran saya, ketika diberikan pertanyaan seperti itu sebaiknya teman-teman terlebih dahulu menanyakan waktu dari supervisor untuk mencocokan jadwal. Keesokan harinya setelah mendapatkan surel tersebut, saya diwawancarai via Skype oleh tim supervisor yang berlangsung secara serius namun santai. Mereka menanyakan hal-hal seputar: tesis, kesediaan saya untuk menempuh studi lanjut jika diterima, aktivitas saya sepulang studi, deskripsi projek yang akan dilakukan selama studi secara umum. Di akhir wawancara , saya sudah mendapatkan kepastian bahwa mereka bersedia untuk menjadi tim supervisor saya untuk studi Doktoral, dan langkah berikutnya adalah mendaftarkan ke universitas dan juga beasiswa. Nah, bagi teman-teman yang belum tahu, alur pendaftaran studi Doktoral dan studi magister sedikit berbeda, terutama mereka yang mengambil Masters by Coursework. Pada studi magister, teman-teman harus mendaftar universitas terlebih dahulu kemudian mencari supervisor ketika sudah menempuh studi, sedangkan untuk PhD, yang paling penting adalah untuk menemukan supervisor terlebih dahulu kemudian mendaftarkan ke universitas. Hal ini dikarenakan, supervisor S3 juga akan berperan dalam proses pendaftaran universitas dan beasiswa dengan memberikan rekomendasi.

Berikutnya saya akan berbagi tentang salah satu poin penting ketika mencari supervisor, yakni menulis proposal riset yang baik. Dari pengalaman saya ketika menulis proposal riset, poin-poin yang harus teman-teman cantumkan antara lain (Poin-poin ini berdasarkan dari saran supervisor saya dan guideline dari universitas):

  • Judul Riset
  • Tujuan dan Objektif Riset
  • Kepentingan Riset untuk Bidang yang Ditekuni
  • Metodologi Riset
  • Hasil-Hasil yang Diharapkan
  • Penyelesain Riset dalam Waktu yang Diberikan
  • Ketersediaan Supervisor dan Sumber Pembiayaan

 

Melamar Beasiswa

Proses melamar beasiswa (http://www.utas.edu.au/research/degrees/scholarships/international-scholarships#752910)

di UTAS sejalan dengan proses melamar ke program yang dituju dan yang perlu dilakukan adalah mengindikasikan keinginan kita untuk mendaftarkan beasiswa yang dituju di formulir aplikasi. Oh iya, sebelum itu, apabila teman-teman mendaftar secara mandiri, semua proses pendaftaran dilakukan secara onlie melalui website universitas. Yang pertama dilakukan adalah melengkapi Expression of Interest (EOI), setelah mendapatkan undangan dari pihak Universitas barulah teman-teman melengkapi aplikasi pendaftarannya

(http://www.utas.edu.au/research/degrees/apply-now). Nah, dalam proses pendaftaran tersebut, teman-teman juga diwajibkan untuk mendapatkan 2 referee reports yang mengetahui latar belakang akademik dan juga potensi riset teman-teman.  Pemberian rekomendasi juga dilakukan secara online dan dikirimkan langsung oleh pihak Universitas ke alamat surel masing-masing pemberi rekomendasi yang saya nominasikan. Waktu itu saya mendapatkan rekomedasi dari supervisor S2 dan juga dari Ibu Maria Lobo, rekan kerja di FST Matematika Undana yang juga merupakan dosen saya saat menempuh studi S1. Penting diingat dan sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwa kita perlu menjalin koneksi seluas-luasnya. Mungkin pada saat ini kita belum mengetahui kepetingannya, tetapi percayalah suatu saat di masa mendatang, koneksi yang teman-teman bangun itu akan dibutuhkan. Hal lain yang juga penting dan terkadang dilupakan adalah, selama proses penantian tersebut (pengumuman beasiswa dan juga aplikasi universitas), usahakanlah untuk terus menjalin komunikasi dengan calon supervisor baik itu sekedar diskusi tentang riset atau hanya untuk menanyakan tentang perkembangan aplikasi beasiswa dan universitas.

Selamat menyelesaikan studi bagi teman-teman yang sedang menempuh studi dan juga selamat mencari beasiswa dan mendaftar kampus bagi teman-teman yang berencana untuk studi lanjut!

Oleh:  Albert Christian Soewongsono – PhD Candidate (Math) at Tasmania University. Email: albertchristian1997@gmail.com

 

EMBRACE THE FUTURE, STAND FOR COUNTRY

 

Foto2.jpg

Tim Debat SMAN 1 Kupang di Brawijaya English Tournament 2019 (kiri-kanan: Debora, Tara, Pedro, Santy, Saya)

“Seorang remaja itu seharusnya tidak membiarkan dirinya dipermainkan oleh waktu, karena bukan waktu yang menentukkan masa depan kita, melainkan kita yang menentukkan kapan masa depan itu akan terwujud”

Saya bukanlah SI BINTANG sewaktu SD, atau SI JENIUS ketika SMP, namun saya telah melalui banyak hal yang membawa saya duduk di bangku SMAN 1 Kupang sebagai SI KRITIS. Singkatnya, saya awalnya iseng mengikuti kegiatan di dunia baru bersama English Club (EC). Banyak hal yang telah saya lewati bersama teman dan senior di EC. Di perkumpulan itu saya dibina menjadi seorang debater. Menjadi Debater yang handal bukan persoalan mudah, setiap kali jari menulis rentetan argumen harus pula diikuti dengan logika dan pikiran yang logis. Beberapa lomba untuk mewakili nama sekolah kami di luar kota sudah saya ikuti. Lomba pertama memang tak meninggalkan kesan yang memuaskan, kalah wajar, kecewa pun wajar. Momen kekalahan itu terjadi di Bandung (Penabur English Debating Championship), bisa dibilang tim kami yang notabene masih kelas 10 merasakan tekanan luar biasa oleh sebab lawan-lawan kami yang terbilang sudah benar-benar menguasai bidangnya. Namun meskipun begitu, tekad dan ambisi kami telah menjadi senjata yang tangguh untuk bersaing disana. Kami tidak kalah tanpa perlawanan, kami kalah dengan terhormat. 

Perjalanan saya sebagai seorang debater tidak berhenti disitu. Lomba kedua, saya bermain di kandang sendiri, di SMAN 1 Kupang; Smansa English Debating Championship yang menjadi kali kedua saya bertanding lomba debat. Tak dipungkiri bahwa debater dari sekolah-sekolah lain tak kalah hebatnya. Kejuaraan saat itu membawa titik terang dari hasil kerja keras serta latihan yang disiplin sehingga tim saya dapat meraih posisi ke-3.
Melakukan rutinitas yang sama kadang membosankan, hal inilah yang sempat mempertemukan saya dengan titik jenuh dalam berdebat. Apalagi saya memegang posisi 3rd speaker yang kerjanya hanya merangkum 1st dan 2nd speaker. Kelihatan biasa-biasa saja dan cukup membosankan, bukan?. Tetapi, rasa jenuh itu cepat memudar mengingat passion saya dalam berdebat itu bisa dikatakan “lagi panas-panasnya”. Di awal maret baru-baru ini, saya dikejutkan dengan sesuatu yang tak saya perkirakan. Saya memegang posisi 1st speaker dengan tim yang baru untuk pergi ‘berperang’ di Brawijaya English Tournament yang bertempat di Malang. Awalnya saya berpikir akan canggung dengan tim yang baru apalagi dua orang di tim saya itu kelas 11. Namun, ternayata semuanya berjalan lancar, tidak ada kecanggungan dan malahan kami bertiga menjadi Tim yang kompak. Di brawijaya dengan kompleks kampusnya yang luas menambah kesan baru dan menantang bagi kami. Ketika preliminary round, kami semangat untuk bertanding dan meraih Victory Points sebanyak-banyaknya untuk dapat lolos ke 16 besar. Dari 4 ronde yang ada kami hanya dapat menghasilkan 2 Victory point/poin kemenangan dan hal tersebut membuat kami kurang yakin untuk dapat lolos. Menjelang Breaking Announcement, tidak satu pun dari kami yang berharap lebih. Namun, firman ini menghancurkan keraguan tersebut

“God didn’t bring you this far to leave you”(Philippians 1:6 )

Ya, kami berhasil masuk ke 16 besar dengan apa yang kami percaya telah kami lakukan semaksimal mungkin.

Sulit memang untuk masuk 8 besar yang sayangnya tak berhasil kami lewati, tetapi apa yang telah terjadi dapat menjadi permulaan bagi masa depan saya dan juga nama baik sekolah maupun daerah asal saya. Saya berdebat bukan untuk sekadar mendapat piala, melainkan juga untuk mendapat pengakuan akan perjuangan dan untuk memotivasi generasi-generasi muda dalam berpikir kritis yang akan menjadi tunas muda dalam membangun negara.

“Try to not become a man of success
But, rather try to become a man of value”
By Albert Einstein.

Oleh Junita Christine Soewongsono
Siswi Kelas X SMAN 1 Kupang
Anggota English Debating Club (EDC) SMAN 1 Kupang